Eddy Arya Adhi Lodra: Bermula dari Hobi Masak

Dari hobi menjadi hoki. Kesenangannya mencoba masakan dan memasak, Edoy kini menggeber pasar kuliner seafood di Kota Kembang dengan brand terkenalnya Sekar Seafood.Bagaimana lika-liku bisnisnya?

Pesan seorang ibu menguatkan niat Eddy Arya Adhi Lodra untuk memilih bisnis kuliner dari tiga pilihan yang dipesan ibundanya: sandang, pangan dan papan.

Kini, bisnis kuliner seafood yang ia geluti mulai menunjukkan ‘rasanya’. “Saya cuma ingat pesan ibu bahwa kalau milih bisnis pilihlah sandang, pangan dan papan. Kalau bisa tigatiganya bagus, tapi kalau gak salah satu aja,” demikian pesan ibunya, Hj Warkinah istri H Darman, yang menjadi spirit dalam bisnisnya.

Lelaki yang akrab disapa Edoy ini memang gemar menikmati kuliner. Kemampuannya memasak tak didapat dari bangku kuliah. Edoy keluar masuk restoran untuk mencicipi menu masakannya, dan berguru lewat obrolan dengan juru masaknya.

Forbis IKPM Gontor
Iklan Forbis

“Saya suka mengobrol dengan chef hotel, merasakan bumbu seafood di tempat lain, gontaganti bumbu sampai dapat komposisi yang pas,” ceritanya kepada Majalah Gontor belum lama ini.

Bagi Edoy tak gampang bisnis di dunia masak, sebab ini menyangkut rasa di lidah setiap orang. Di mana kesukaan orang sangat beragam. Karena itu, Edoy selalu berusaha menyajikan menunya dengan sentuhan lembut dan harus dengan cinta dan kasih, sehingga pesannya sampai ke pelanggan.

Meskipun tak mudah, Edoy tetap terus berusaha konsisten untuk menekuni bisnis makanan ini. Baginya, rugi dalam berdagang adalah risiko. “Saya pernah rugi dan sudah lumrah. Berani bisnis jangan takut rugi, takut rugi jangan bisnis, takut bisnis ya sudah jadi pegawai saja,” ujar suami Anita Pujiastuti.

Sebelum menjalani bisnis seafood ini, bapak tiga putri ini pernah menjajal bisnis kuliner masakan ayam dengan brand terkenalnya adalah Sambal Gelo. Setelah lima tahun menjalani bisnis masakan Sambal Gelo, ia berhasil mendirikan 14 cabang. Edoy merasa bisnis Sambal Gelo sudah mulai menunjukkan masa surut, sebelum benar-benar berhenti Edoy pun memasang jurus ke masakan seafood. “Terus saya beralih ke seafood. Karena di ayam itu Anda puas kami lemas,” kelakarnya sambil tertawa. Bermodal Rp 600 juta, Edoy pun memantapkan untuk mengambil pasar kuliner seafood. Nama Sekar pun menjadi brand andalannya, Sekar Seafood.

Penyematan label Sekar diambil dari nama putrinya. Selain itu memiliki filosofi Sekar itu bunga yang wangi dan disukai pada jaman kerajaan hingga sekarang. “Harapannya semoga Sekar Seafood ini bisa wangi bagi hati semua pelanggan seantero jagad sesuai namanya,” tuturnya.

Eddy Arya Adhi Lodra: Bermula dari Hobi Masak
“Kalau karyawan gak shalat, kemudian restoran gak laku, saya ruginya double,” candanya.

Berdayakan nelayan

Masakan seafood harus disajikan dari ikan segar. Untuk memberikan kualitas ikan yang terbaik, Edoy pun bekerjasama dengan para nelayan untuk bisa mendapatkan pasokan ikan yang fresh. Ia menjalin hubungan baik dengan memberdayakan 25 perahu nelayan di Indramayu sebagai pemasok ikan, cumi, kerang, dan kepiting. Nelayan merasa beruntung karena Edoy membeli dengan harga tinggi sebagai end user.

“Sejak awal kita harus mengondisikan asal barang, tak asal mengambil barang dari pemasok karena tak jaminan barangnya bagus,” kata lelaki kelahiran Indramayu, 19 Juni 1981, ini. Semua nelayan yang diberdayakan adalah mitra penting.Berapa pun hasil tangkapan mereka akan dibeli untuk kebutuhan Sekar Seafood.

Menurutnya, hampir setiap hari pasokan ikan, kepiting, udang, cumi, dan kerang selalu datang untuk kebutuhan Sekar Seafood. Sehingga ia berani menawarkan bahan bakunya segar. Ia lebih memilih hasil tangkapan ikan dari nelayan perahu
kecil ketimbang perahu besar karena ketika naik ke darat masih segar.

Sebagai perbandingan, nelayan berperahu kecil hanya sehari mendapat hasil tangkapan, sementara nelayan berperahu besar bisa sampai 45 hari di laut dan ketika disajikan untuk masakan laut sudah terlalu lama.

“Nelayan kecil sore berangkat ke laut pagi mereka menjual ke kita. Dari segi kualitas ikan dan lainnya insya Allah kita sajikan yang lebih fresh,” bebernya. Meski Sekar Seafood terbilang baru di Kota Bandung, namun rasa dan kualitasnya tak kalah dengan restoran-restoran seafood lama yang ada di Bandung. Sekar Seafood memberikan suguhan pemandangan beragam jenis seafood, mulai yang hidup atau yang sudah dibekukan.

Pelanggan yang datang tinggal memilih jenis seafood dan bumbunya. Di antaranya ada bumbu saos padang, saos lada hitam, saos asam manis/pedas, saos tiram, saos singapore, saus telur asin dan saos garlic butter lemon.

Untuk menu seafood andalan, Sekar Seafood adalah kepiting lada hitam, udang telur asin dan cumi telur asin. Seafood yang diambil dari Kabupaten Indramayu ini memiliki kualitas ekspor dengan ukuran yang besar-besar sehingga cocok untuk
dimakan bersama kerabat maupun keluarga.

Eddy Arya Adhi Lodra: Bermula dari Hobi Masak
Sebagai alumni Pondok Modern Gontor, Edoy juga memberikan fasilitas mushalla untuk para pengunjung yang akan menunaikan shalat lima waktu

Gaya Edoy Mengelola Sekar Seafood

Restoran yang berlokasi di Jalan Suniaraja dan Jalan Soekarno Hatta ini merupakan hasil kerja keras dua bersaudara, Aris Widiyanto dan Edoy. Keduanya tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia masak, kakaknya, Aris, adalah lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) sedangkan Edoy lulusan akutansi dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom). Namun sejak lama Edoy hobi memasak dan beberapa kali pengalaman membuka tempat makan di Bandung.

Sebagai alumni Pondok Modern Gontor, Edoy juga memberikan fasilitas mushalla untuk para pengunjung yang akan menunaikan shalat lima waktu. Mushalla yang awalnya hanya cukup untuk dua orang, kini dirombak untuk delapan orang. Selain itu juga mengubah beberapa simbol-simbol, neon box dan memanfaatkan media sosial yang saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat banyak.

Menurut Edoy, yang terpenting adalah karyawannya yang beragama Islam wajib menunaikan shalat lima waktu. “Kalau karyawan gak shalat, kemudian restoran gak laku, saya ruginya double,” candanya.

Sejak perubahan tersebut dilakukan, omzet Sekar Seafood pun meningkat. Pembeli semakin ramai berdatangan. Jadi, rahasia sukses Sekar Seafood ini tak hanya soal rasa dan kualitas yang harus dijaga, tapi hubungan dengan Allah pun harus selalu dijaga.

Terkesan Saat Antre Makan di Gontor

sang juru masak sekaligus owner Sekar Seafood adalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Ia masuk Gontor pada tahun 1996. Bagi Edoy, Pondok Gontor adalah guru terbaik setelah kedua orangtuanya. “Gontor itu guru terbaik setelah ibu dan bapak kita,” tuturnya.

Edoy memang tidak sampai tamat Gontor, namun ia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga besar alumni Gontor. Ia keluar Gontor ketika duduk di kelas lima. “Saya sempat merasa tidak kerasan dan ingin balik ke rumah,” katanya.

Selama di Gontor, ia terkesan dengan saat jam makan bersama ribuan santri lainnya. “Antre makan panjang, asyik banget,” kenangnya. Setelah mondok, Edoy melanjutkan aktivitasnya belajar di perguruan tinggi di Unikom Bandung
dan langsung mencoba bisnis makanan. Awalnya ia ingin masuk kedokteran, namun karena tidak lolos, ia pun ambil jurusan komputer. (FATHUR ROJI NK)

Sumber: Majalah GONTOR edisi Sya’ban – Ramadhan 1438/Mei 2017

Sebelumnya

FORBIS IKPM Gontor Kunjungi Keluarga Besar IKPM Cabang Malaysia

Sesudahnya

Catatan Pelantikan Forum Bisnis IKPM Gontor Wilayah Yogyakarta