H Farouk Budi SE: Broker Asuransi yang Peduli Anak Yatim

Meski tak sampai tamat mondok di Pondok Modern Gontor, H. Farouk Budi, SE yang juga Direktur Utama PT. Manunggal Bhakti Suci (MBS) mengaku sangat terkesan dengan pendidikan yang ada di Gontor.

Saat mondok memang tidak terasa ilmunya akan berguna, tapi setelah keluar pondok, ilmu yang pernah ia dapatkan di Gontor terasa manfaatnya. Farouk nyantri pada tahun 1971, harapan sang ayah, Mas’ud, yang juga pengusaha kopra di Blitar saat itu ingin anaknya menjadi anak yang pandai ilmu agama. Namun apalah daya, harapan tinggal
harapan. Ketika tahun ketiga, Farouk benarbenar pada titik jenuh nyantri di Gontor. “Saya kepikiran mau jadi apa saya ini, menjadi kiai juga tidak pantas. Akhirnya, saya izin pulang ke rumah menemui orangtua,” ungkap lelaki yang keluar pondok tahun 1973 ini. Mendengar ungkapan sang anak yang ingin berhenti nyantri, kontan saja sang bapak marah dan mengatakan, “Kamu sudah balig, kamu harus hidup sendiri karena itu bukan kewajiban saya lagi,”
kenang lelaki kelahiran Blitar, 27 Juli 1958 ini.

Akhirnya, Farouk kembali ke pondok melanjutkan belajarnya, namun tidak beberapa lama kemudian ia menulis surat kepada orangtuanya terkait keinginannya untuk berhenti mondok. Akhirnya, surat dibaca sang ibu, Munjilah. Hati seorang ibu tak kuasa, akhirnya ia menyetujui keinginan sang anak. Farouk pun berhenti nyantri di
Gontor. Meski tidak sampai tamat nyantri di Gontor, ayah tiga putri ini merasakan pendidikan di Gontor sangat bagus. “Di pondok kita bisa belajar memiliki banyak teman dari penjuru nusantara. Wawasan bertambah, kemandirian ditanamkan dan kedisiplinan yang ketat,” ujarnya.

Berhenti mondok, Farouk melanjutkan ke SMP Muhammadiyah, setelah mendapatkan raport kelas tiga, ia pindah sekolah ke SMP Negeri Blitar dan berlanjut ke SMA Negeri 1 Blitar. Ia merasakan pendidikan ekstra kurikuler yang pernah ia rasakan di Gontor telah memberikan semangat saat ikut aktif di organisasi OSIS. “Saat di sekolah saya banyak berorganisasi, karena pengaruh dari pergaulan di pondok,” ujar suami Hj. Wiwiek Agustini. Ketika Farouk belajar di bangku SMA (1980), ekonomi orangtuanya dalam kondisi terpuruk. Inilah yang mengilhami dirinya untuk kuliah di Jurusan Ekonomi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Dua tahun berjalan, ia melamar pekerjaan di perusahaan BUMN. Ia pun diterima menjadi staf administrasi.

Forbis IKPM Gontor
Iklan Forbis

Farouk telah berkiprah di industri asuransi dan reasuransi sejak tahun 1981, dimulai saat bergabung dengan PT Reasuransi Indonesia (Re-Indo) salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang reasuransi selama kurang lebih 13 tahun.

Kemudian bergabung dengan PT Beringin Sejahtera Makmur Putra (BSMP)Reinsurance Brokers, salah satu anak perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia, sebagai Direktur Utama selama 6 tahun, pernah aktif sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI) periode2000-2003. B e r p e n g a laman dalam menangani program asuransi untuk nasabahnasabah korporasi, baik untuk swasta maupun BUMN, dan merupakan salah satu praktisi asuransi dan reasuransi yang secara aktif memiliki akses kepada pasaran
reasuransi baik dalam maupun luar negeri, khususnya Asia, Timur Tengah dan Eropa.

Kini, ia mengelola perusahaan bersama partner bisnisnya. Ia pun menjabat sebagai Direktur Utama di PT. Manunggal Bhakti Suci (MBS) yang berkantor di bilangan Kuningan Jakarta. MBS merupakan perusahaan broker & konsultan asuransi nasional, memberikan jasa pialang dan konsultasi untuk mencari inisiatif dan solusi perlindungan terhadap risiko terbaru bagi seluruh klien. Selain itu, ia juga mengembangkan bisnis sapi perah. Usaha sapi perah ini juga pernah dikunjungi Presiden SBY. Untuk pengembangan bisnis lainnya, Farouk mencoba juga bisnis tambak udang di Pacitan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap anak yatim piatu, anak yang berekonomi lemah, Farouk juga mendirikanpesantren anak yatim. Saat ini tercatat santri yang dibinanya sebanyak 36 santri anak yatim. Mereka mendapatkan fasilitas gratis selama belajar di pondok. “Saya ingin usaha yang dihasilkan dari sapi dan udang hasilnya untuk membiayai pendidikan anak-anak di pesantren,” ungkapnya.

Sebelumnya

Abdul Hamid Husein: Kisah Anak Kampung Penjelajah Benua

Sesudahnya

Yayan Suryana, Luqman Hakim, Irfan Fauzan adalah Tiga Santri Pelopor Herbal Chicken Resto