HM Sodiq Nurhadi Sukses Bisnis Bermodal Tiga Tahun di Gontor

Acara Silaturahim dan Lokakarya Pengusaha Alumni Gontor dalam Peringatan 90 Tahun Gontor (2/9) laksana sebuah seminar motivasi yang menggugah para alumni Gontor untuk merah kesuksesan bisnis. Di tengah-tengah ratusan peserta yang memadati gedung Rabithah, hadir narasumber alumni senior yang sukses menjalani berbagai macam bisnis.

Dialah HM Sodiq Nurhadi, pengusaha dari Bojonegoro yang memiliki beberapa macam bisnis. Pak Sodiq, sapaan akrab pria berkaca mata ini, memiliki bisnis swalayan, toko bangunan, toko sembako, distributor pupuk, SPBU, koperasi, perkebunan, pertanian, transportasi, bisnis tembakau, dan bermacam bisnis lainnya.

Ia juga menjadi lokomotif gerakan dakwah dan pendidikan di wilayah Bojonegoro, dengan masjid, sekolah
dan pesantren modern yang memiliki fasilitas cukup memadai. Pria yang dikaruniai 10 anak ini hanya tamatan
kelas tiga Gontor. Meski tak sampai selesai, Sodiq tak pernah melupakan jasa para guru di Gontor yang telah
mendidiknya.

Di hadapan peserta, Sodiq bercerita, saat kelas tiga, ia tak bisa menghindari kenyataan yang pahit.
Saat itu ibu kandungnya meninggal, sementara adik-adiknya masih kecil dan butuh biaya sekolah. Ia terpanggil untuk menjadi tulang punggung keluarga, menanggung hidup adik-adiknya.

Alasan itulah yang mendorong dirinya pulang ke Bojonegoro, setelah mendapat restu dari Kyai Gontor. “Sepulang dari Gontor ada nasihat bahwa ilmu tidak didapat dari sekolah saja tapi dari mana saja. Jangan sampai berhenti menuntut ilmu,” ujar Sodiq menenang nasihat di masamasa pahitnya.

Berbekal pelajaran tiga tahun di Gontor, Sodiq pulang ke Bojonegoro menjadi kernet angkot, kemudian naik menjadi sopir. Tahun 1974 ia mengambil kredit bank untuk membeli angkot dan disopiri sendiri. Semakin lama, mobilnya berkembang menjadi 4 mobil. Kalau mobilnya rusak, Sodiq pun memperbaiki sendiri. “Saya pernah diajari di Gontor kalau diesel penggilingan padi rusak, saya yang memperbaiki,” paparnya.

Sodiq memaparkan, sempat menjual empat mobilnya untuk biaya haji orangtuanya. Sisanya digunakan untuk mendirikan toko bangunan dan toko elektronik. Apa saja dikerjakan untuk menambah penghasilannya, termasuk menjadi makelar dengan modal amanah yang diajarkan Gontor.

Untung 1 juta, tahun 1977 uang itu dibagi dua, 500 ribu untuk modal mendirikan toko baru, dan yang 500 ribu digunakan untuk membiayai alumni Gontor yang maju menjadi DPRD tapi gagal terpilih. “Hanya ilmu dari Gontor ini saya kembangkan dengan modal 500 ribu untuk berjuang menegakkan nama Allah.

Dan lima ratus lagi kita kembangkan untuk beberapa unit usaha yang tidak meninggalkan nama Gontor,” cetusnya. Suatu ketika Sodiq ingin mendirikan usaha baru yang namanya dari ustadz di Gontor yaitu IMSA (Independen Muslim Secieti Asotiation). Harapannya, nama ini sedikit intelek, tapi ketika membuat stempel keliru menjadi ISMA. Karena kekeliruan ini Sodiq memelesetkan kepanjangan menjadi IMSA yang diartikan “Ini Semua Milik Allah”.

Dialah HM Sodiq Nurhadi, pengusaha asal Bojonegoro yang memiliki beberapa macam bisnis. Keberhasilan usahanya turut membantu berbagai kegiatan Gontor, meski dulunya ia tak sampai lulus belajar di pesantren yang didirikan Trimurti ini.

Membantu Pondok

Keberhasilan Sodiq di bidang usaha tentu sampai di telinga Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Kemudian, Sodiq sempat diundang ke pondok untuk membenahi Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK) Gontor. Sodiq pun mengusulkan kepada pimpinan pondok agar ada ustadz yang magang di tempatnya.

Tujuannya tak lain agar para santri dan ustadz bisa menyerap ilmu secara langsung di lapangan. ”Alhamdulillah cara ini berjalan baik. Prinsip saya tidak mencari manfaat dari Gontor, tapi saya harus memberi manfaat kepada Gontor. Saya tidak sekolah di mana-mana hanya di Gontor,” kata Sodiq membeberkan alasannya.

Di luar dugaan, setelah berhasil membantu UKK, Pimpinan Gontor memberikan amanah untuk menyalurkan sembako bersama Menteri Koperasi Adi Sasono. Lebih dari 60 ribu liter minyak dan gula disalurkan kepada masyarakat. Ketika itu Adi Sasono bertanya, berapa keuntungan yang didapat. Sodiq pun menjawab semua keuntungan untuk Gontor.

Sekali lagi, Sodiq menegaskan bahwa apa yang dilakukan untuk membantu Gontor, tapi justru Sodiq mendapat berkahnya sehingga usahanya mendirikan swalayan semakin berkembang. “Ini karena ikut membantu Gontor dan berkah untuk saya sampai sekarang. Inilah pengalaman yang saya dapat dan semua ilmu dari Gontor,” tegasnya.

Sejak itu, pria yang dikaruniai 10 anak ini memiliki beberapabisnis yang terus berkembang, seperti toko swalayan Latansa, PT Laroiba, Isma Toko Swalayan (ITS), Isma Toko Bangunan (ITB), hingga mendirikan pesantren modern di Sumberejo, Bojonegoro. Meskipun tak terjun di dunia politik praktis, Sodiq juga menjadi tokoh penting yang menyukseskan terpilihnya Bupati Bojonegoro Suyoto hingga dua periode.

Terakhir, menjelang Peringatan 90 Tahun Gontor, panitia menghubunginya untuk dapat membantu pembangunan jalan menuju Gontor yang masih berlubang. Tak hanya membantu pendanaan, Sodiq juga siap menjadi salah satu narasumber dalam lokakarya pengusaha alumni Gontor ini.

Sodiq juga mengapresiasi adanya forum bisnis yang digagas Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Pondok Modern (PP IKPM) dalam lokakarya tersebut. Kepada para pengusaha alumni Gontor, Sodiq berpesan jangan sampai forum ini hanya untuk mengambil manfaat dari Gontor, tapi sebisa mungkin harus bisa memberi untuk Gontor.

Suami Hj Jamila ini mengakui, keberhasilannya berbisnis karena menjalankan prinsip-prinsip dan ajaran Gontor. “Jangan sekali-kali menyakiti hati sesama alumni, sesama pengusaha dan memanfaatkan pengusaha Gontor, yang sukses dibikin mlarat. Ambillah manfaat dari Gontor dan berilah manfaat untuk Gontor,” tuturnya.

Menurutnya, alumni Gontor akan lebih sukses dari dirinya jika berprinsip tidak mencari manfaat dari Gontor, tapi mengutamakan kepentingan Gontor dan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk Gontor. “Prinsip saya, ambillah manfaat dari Gontor dan berilah manfaat untuk Gontor,” terang alumnus Gontor tahun 1972 ini.

Prinsip ini juga yang ditularkan kepada seluruh anaknya. Bahkan semuanya dikirim ke Gontor untuk menyerap ilmu dan membawa kuncikunci keilmuan, kemandirian dan keikhlasan yang selalu diajarkan diGontor. “Anak saya sesibuk apapun usahanya harus ikut membantuma’had,” terangnya.

Sepulang dari Gontor, anaknya ada yang mengelola bisnis palawija, pengering gabah, bisnis laundry dan sembako. Ada juga yang mendirikan PT Laroiba, PT Ojo Lambar, menjadi notaris dan bergerak di bidang pendidikan. Sodiq selalu berpesan, jangan pernah pakai materi pondok untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi, Sodiq benar-benar mewanti-wanti agar para alumni tidak memanfaatkan Gontor. Sebaliknya, para alumni harus memberi manfaat sebesar-besarnya untuk Gontor. Berjasalah, tapi jangan minta jasa. “Saya hanya kelas tiga Gontor, antum lebih sukses dipendidikan, yakinlah antum lebih sukses daripada saya,” terangnya. AHMAD MUHAJIR