Jahe Instan CoWas dan Ekspor komoditi Indonesia (PT. Astana Shoga Asia)

Materi Pembuka

Assalamualaikum Wr Wb.

JAHE SEBAGAI LANGKAH AWAL MEMBUKA MARKET DUNIA

Sekilas mengupas tentang usaha ekspor hasil bumi serta jahe instan kami yang bertempat di Nganjuk Jawa Timur. Usaha ini diawali oleh tim bapak kami, dan karena sekarang kami sudah pulang dan menetap di Nganjuk, perlahan bapak mulai istirahat dan minta kami untuk berlatih memanaje perusahan. Usaha ini sebenarnya berawal dari keresahan petani yang diberi (dibantu) bibit oleh pemda dengan kesepakatan nanti hasil panennya akan dibeli oleh pemda. Ketika panen tiba pihak pemda pun tak kunjung datang. Terbesit dalam hati kami untuk mencoba mencarikan solusi para petani yang terlanjur menanam jahe ini. Beberapa tahun sebelum ekspor kalau tidak salah bapak cerita pernah silaturrahim dengan IKPM Cirebon dan bertemu dengan Ust. Hadi, Ust. Jamal, Ust. Fuad dan yang paling saya semangat kalau beliau cerita tentang manajemen perusahan Surabraja milik Ust. Sefi. Banyak ilmu yang saya ambil dari cerita-cerita bapak tentang antum asatidzii. Salam ta’dzim dari kami.

Singkat cerita kami mencoba mencari peluang dengan mendirikan perusahaan ekspor. Dengan adanya perusahaan ini alhamdulillah kami bisa menyerap jahe2 petani di Nganjuk. Bahkan jahe petani Nganjuk kurang untuk memenuhi permintaan buyer 5 kontainer 40 ft jahe segar ketika itu. Alhasil kami pun mengambil dari luar Nganjuk bahkan luar jawa. Dari sinilah semuanya bermula. Kami berpikir untuk jahe ini harus ada turunannya. Bukan hanya segar saja yang kita jual. Harus ada produk baru. Setelah beberapa kali uji coba alhamdulillah serbuk jahe instan tanpa bahan pengawet ini pun dapat kami hadirkan. Kami coba untuk menembus salah satu pabrik minuman termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia dengan mengirim sample dan uji coba lab untuk kandungannya.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Sample kami akhirnya masuk dan diterima namun kami harus menunggu untuk dealing dan PO pertama dari pabrik. 8 bulan kami menunggu dan hampir putus asa. Tak ada sedikit pun kontak dari pihak pabrik ke kami. Tapi kami selalu berdoa kalau memang ini rizqi untuk ummat in sya Allah pasti Allah berikan yang terbaik. Akhirnya masuk bulan ke 9 ada email masuk dari pabrik dan memanggil tim kami untuk hadir ke Tangerang guna  membicarakan harga serta PO perdana.

Alhamdulillah. Doa para petani jahe pun akhirnya dikabulkan oleh Allah. Diawali dengan PO perdana 10 ton jahe instan. Bulan demi bulan PO dari pabrik meningkat. Yang awalnya hanya 10 ton perbulan meningkat menjadi 15, lalu 20, bahkan pernah mencapai angka 35 ton. Sebuah kesyukuran yang tak terhingga kepada Allah SWT. Jujur kami hanya masyarakat desa yang dana pun tak tersedia banyak. Akhirnya kami menawarkan kerjasama ke beberapa konCO laWAS (COWAS) dari Jawa Pos dan KAMENWAGAMA (Keluarga Alumni Menwa Gadjah Mada), kebetulan bapak pernah nimbrung di JP dan kuliah di UGM.

Alhamdulillah kerjasama kami berjalan sampai sekarang. Semoga kedepan kami bisa bekerjasama dengan FORBIS atau dengan rekan2 FORBIS. In sya Allah.

Brand CoWas. Awalnya kami tidak menjual retail an 250 gram an seperti sekarang. Tapi ketika reuni JP ternyata kawan2 bapak banyak yang suka dan minta lagi. Begitupun di UGM. Juga bank Jatim Nganjuk yang dulu pernah menjadi mitra bapak ketika di PDAU. Akhirnya lahirlah CoWas Jahe Instan yang alhamdulillah sampai saat ini sudah beredar di seluruh Indonesia. Terkahir kami kirim ke Abepura-Papua. Kami pun pernah berburu kerjasama dalam acara Gulfood di UAE tepatnya di Dubai World Trade Centre pada tahun 2016. Ketika itu kami diundang seorang buyer yang sudah seperti keluarga sendiri. Semua akomodasi Jakarta-Dubai PP beliau yang tanggung. Walaupun kerjasama kami bukan untuk produk ini. Kami kerjasama untuk ekspor raw material gum benjamin.

Begitulah sedikit banyak perjalanan ekspor dan jahe instan kami.

Alhamdulillah sekarang usaha kami berkembang. Selain Jahe Instan dan Ekspor Hasil Bumi, sekarang kami juga sedang mengembangkan minyak atsiri/essential oil untuk jahe dan serai wangi juga memproduksi empon2 slice kering.

Sekian dari kami kalau ada kurang lebihnya harap dimaklumi.

Jazakumullah aufaral jaza’.

Tidak ada syarat khusus untuk menjadi reseller produk ini. Juga tidak ada minimum order. Berapapun dilayani. Harga jual pasaran adalah Rp. 30.000,- Tapi untuk Forbis, mendapat harga Rp. 20.000,- dengan menyisihkan Rp. 2.500,-/ bks untuk Forbis.

Jenis jahe yang diekspor adalah gajah. Berat minimal 100 g up per rimpang. Jahe untuk produksi jahe instan adalah jahe emprit yang diambil dari Lampung dan Palembang. Serapan pasar luar negri masih bagus untuk komoditi raw material dr Jahe, asalkan memenuhi spek yang diberikan oleh buyer. Inovasi produk dari jahe (mungkin berupa syrup, teh celup, permen, dsb) masih terus dilakukan, selain dg jahe instan yg sudah diproduksi. Pasar ekspor jahe ke timteng/ Asia kecuali Jepang (karena harus organik) masih terbuka dengan syarat umum, jahe segar, tidak keriput, sudah dicuci dan dg berat per rimpang 100gr up.

Jahe emprit Lampung dan Palembang memiliki rasa juara, dan memenuhi spek pabrik. Namun jahe Jawa sudah memenuhi spek untuk ekspor. Penanaman jahe sebaiknya di tanah yang basah tapi tidak becek. Jika becek dia akan busuk. Hawa sekitarnya segar. Dan tidak boleh langsung terkena sinar matahari. Perkiraan 1000 mdpl up. Harga jahe emprit Jawa per Oktober 2017 adalah rp. 5.300/kg sampai lokasi (Nganjuk).

Closing Statement

Ada 2 resep yang kami terapkan dalam berbisnis. Silaturrahim dan Syukur. Resep ini lah yang membawa kami membuka pasar timur tengah dan alhamdulillah buyer sedikitpun tidak menego harga dari kami. Komodity nya damar. Kami ekspor ke Tunisia.

Jadi, kemanapun kita berjalan mari diniatkan untuk silaturrahim dan jangan lupa syukuri semua yang telah Allah berikan untuk kita, hamba-Nya.

Kamal Musthofa

Wassalamualaikum Wr Wb.

Metode diskusi:

Tidak ada diskusi
Sebelumnya

Manajemen Perubahan

Sesudahnya

Mengawali Usaha

Terkait