Efektifitas Karya Audio-Visual Sebagai Media Komunikasi Brand

Efektifitas Karya Audio-Visual Sebagai Media Komunikasi Brand

MATERI PEMBUKA

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Bismillaahirrahmaanirrahim

Semoga intro ini menjadi obrolan yang bermanfaat, insyaAllah. Saya sebut obrolan karena memang kapasitas saya sangat terbatas hanya di lingkup bidang yang saya geluti ini saja, tidak lebih. Tentu saya harus menjunjung sikap salut dan hi-respect  saya kepada para senior, asatidz dan sohib-sohib di forum ini yang sudah sukses malang-melintang di dunia bisnis puluhan tahun.

Saya bukan seorang pengusaha, saya hanya pelaku visual yang kebetulan biasa diminta membantu para pengusaha untuk menerjemahkan strategi komunikasi brand mereka secara visual. Alhamdulillah. Di sinilah saya akan berbagi sedikit pengalaman atau gagasan yang barangkali layak menjadi bahan diskusi lebih lanjut.

Selama ini saya sering penasaran, kenapa para pengusaha kita kurang begitu sadar (baca: yakin) terhadap media visual dalam berpromosi? Kalaupun berpromosi, saya menangkap ada keraguan alias kurang total. “Daripada duit dibuang buat promo video/TV, mendingan buat nambah modal produksi atau buka cabang baru,” begitu kurang lebih logika yang sering sampai di telinga saya. Walhasil, promosi yang dijalankan dengan “nanggung” itu pun sudah pasti menuai feedback kurang maksimal pula bagi penjualan.

Hal tersebut mau gak mau memaksa saya membandingkan dengan klien-klien yang kebetulan pernah saya tangani dalam memandang pentingnya investasi dalam membangun brand menggunakan media audio visual. Mereka saya lihat seperti mengerahkan segala potensi dengan energi penuh bahkan berapi-api saat menyampaikan strategi mereka di depan saya dalam berbagai pre-production meeting pembuatan TVC. Investasi yang mereka anggarkan pun rata-rata sangat fantastis untuk urusan promosi di media visual ini.

Mungkin antum berfikir karena mereka perusahaan besar dengan modal besar. Sebagian memang benar. Tapi tidak sedikit juga saya bertemu produk baru dengan kapasitas pas-pasan, tapi alokasi perhatian si pemilik brand terhadap promo audio visual begitu luar biasa, demi target feedback yang diharapkan.

Di era 5 sampai 10 tahun lalu, okelah, saya cukup

memahami bahwa biaya TV placement memang cukup tinggi. Tapi di era internet ini, seharusnya sudah tidak ada lagi alasan tersebut. Karena antum bisa memvisualkan brand antum kepada dunia hampir tanpa biaya tayang. Fokus memikirkan produk biar laku, memang harus. Tapi membesarkan brand yang justru mampu menembus zaman juga wajib. Ada ungkapan menarik dari Lisa Gansky, seorang entrepeneur dan penulis, “A brand is a voice and a product is a souvenir”.

Dan saat ini, menurut saya suara terbaik dalam mengkomunikasikan brand dan produk adalah secara visual. Mengapa visual? InsyaAllah akan kita obrolkan lebih lanjut setelah ini.

MATERI INTI

Well, yuk kita jawab pertanyaan di atas, Mengapa Visual?

Menurut saya manusia selain makhluk sosial, dia juga makhluk visual. Allah men-disain otak kita bekerja secara visual. Saya sepakat bahkan sempat mempraktekkan dalam sebuah pre-production pembuatan film, teori psikolog Tony Buzan, yang berpendapat bahwa otak manusia bekerja dengan gambar dan asosiasi. Sebab itulah Buzan menyajikan metode ‘Mind Mapping’ dalam upaya visualisasi ide.

Buktinya, ketika kita mendengar atau membaca sebuah cerita, otak kita otomatis memetakan suasana set lokasi, karakter atau bodytype tokoh dalam cerita dan seterusnya. Antum pasti tidak membayangkan deretan teks saat mendengar  atau membaca sebuah cerita seru, bukan?

Saya ungkapkan ini untuk mendukung keyakinan saya, bahwa media visual, baik itu film, TV Commercials (iklan TV), dokumenter, company profile, video promo dan sejenisnya akan lebih memorable, lebih lengket di fikiran target (penonton). Mengingat sebuah media sebagai penyambung pesan, tentu akan sangat efektif bagi tercapainya target pesan yang diinginkan.

Jangan lupa, diintip dari angle sejarah dan tradisi, masyarakat kita sejak dulu adalah masyarakat penonton dan pendengar, bukan masyarakat pembaca. Ritual menonton sudah menjadi budaya bangsa kita sejak ratusan tahun silam. Sebut saja ketoprak, wayang kulit, ludruk, lenong dan banyak lagi, terbukti mampu menjadi media komunikasi penyampaian pesan yang cukup efektif kepada masyarakat luas dengan bermacam tujuan, baik oleh kalangan penguasa maupun tokoh-tokoh religi . Di sinilah saya mengagumi kecerdikan  Sunan Kalijaga dalam membaca peluang menancapkan misi da’wah Islam melalui wayang kulit yang beliau modifikasi sedemikian rupa dan berhasil dengan gemilang.

Maka di era internet ini, akan sangat disayangkan bila para pengusaha kita menyia-nyiakan kesempatan dalam memanfaatkan kemudahan dan jangkauan media yang begitu luas tanpa kenal batas geografi maupun zona waktu. Semua target yang antum buru saat ini sudah standby di depan layar masing-masing. Anytime, anywhere.

Sebagai peminat sekaligus pelaku dunia visual sejak era 90an, saya sangat merasakan langsung proses pergeseran perilaku penonton yang sangat drastis dalam 5-10 tahun belakangan. Bahkan layak disebut revolusi. Sampai-sampai saya iseng berkelakar, membuat istilah untuk generasi sekarang sebagai “GEN-S” atau Generasi Screen. Bagaimana tidak? Bangun tidur yang dilongok pertama screen HP, lalu berangkat kerja pindah ke screen monitor desktop atau laptop, dalam perjalanan disuguhi screen raksasa videotron yang sekarang ada di setiap perempatan jalan kota besar, di dashboard mobil pun harus melototin  berbagai jenis screen, sampai rumah istirahatnya nonton screen TV atau nge-game di screen Play Station, week end mau refreshing nonton screen bioskop, dan seterusnya. Dan ini sepertinya akan terus berlanjut sampai beberapa dekade ke depan, bahkan bisa lebih dahsyat dari ini, entah ada hal baru berbau screen apa lagi nantinya.

Secara teknis memang ada perbedaan besar dalam strategi video ad di TV, media outdoor maupun dunia maya, seiring dengan pergeseran perilaku penonton di atas. Antum sekarang tidak bisa membuat video ad yang efektif dengan hanya mengandalkan konsep iklan tactical atau hardsell saja di dunia maya. Meski masih banyak kita temukan pengusaha kita melakukannya di youtube atau facebook saat ini. Itu terbukti kurang efektif. Dengan mudah penonton akan skip video antum begitu dirasa tidak catchy di detik awal. Misal antum membuat video ad, di durasi awal sudah memakai copywriting: “Ayo beli…!” Atau  “Inilah Kecap Nomor Satu…” dst. atau dari judulnya sudah kelihatan klise, misal: “Company profile sekolah anu…” sudah pasti hanya murid2 dan guru sekolah itu saja yang akan meng-klik. Kecuali tujuan video tersebut memang sejak awal hanya dibuat untuk murid dan guru. Jika tanpa strategi teasing tentang pentingnya dan asyiknya terlibat dalam tayangan video ad antum, hanya akan buang energi.

Maka jika antum hendak membuat video-ad di dunia maya, usahakan menggunakan konsep thematic. Jadi, mengenalkan brand harus memberi benefit tertentu kepada penonton, baik secara emotional atau physical, mengandung materi menarik, dibutuhkan sebagai sebuah informasi penting, kalo bisa ada sesuatu yang membuat mereka me-replay bahkan men-share videonya saat selesai menonton. Di sini kita harus melibatkan kreatifitas dan strategi yang tepat. Banyak contoh, baik itu produk, organisasi publik atau funding kelas dunia yang melakukan ini dengan baik di dunia maya atau TVC. Contoh lokal, antum pasti masih ingat iklan2 Toko Bagus, Traveloka, Bukalapak dsb. Yang sukses mengawali video ad di dunia maya. Cara mereka tidak hanya sanggup menahan penonton sampe detik akhir video mereka, tapi juga mampu membenamkan pesan yang mereka inginkan di kepala jutaan targetnya.

Semua ini saya kemukakan karena hari ini dunia sedang berebut awareness dari setiap individu pemegang gadget. Di sanalah kita dan generasi anak cucu kita berada saat ini dan nanti. Kita bisa ikut mewarnai dengan misi kita, atau kita hanya ikut larut dalam teasing yang mereka buat. Maka jangan kaget jika hari ini banyak selebritis media sosial ditonton oleh puluhan juta viewer hanya dengan ngomong ngalor-ngidul dalam media vlogs.

Kesimpulan sederhananya,

Iklan Thematic: Antum kasih benefit dulu kepada pemirsa, baik emosional maupun fisikal, seperti bikin cerita yg touchy dlm video yg sesuai dengan brand atau produk antum untuk menggiring dan menyadarkan mereka menyukai bahkan loyal pada produk antum.

Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan 1

Irfi, Angkatan 2007

1. Apa langkah awal sebagai pemula/yg ingin punya bisnis online. Tapi minim dana.

Plus Supaya orderan booming dg visual iklan.

JAWABAN

Baik ust Irfi.. sejauh yang saya tau, jelas konten video antum harus memenuhi kriteria esterik tg sata sevur di atas, antaranya benefit arau bermanfaat langsung sebagai informasi buat penonton. Sisanya, ada beberapa tips dari youtuber tentang jam posting yg efektif ;bisa googling) dan juga manfaatkan tools fasilitas youtube sebaik mungkin, juga manfaatkan viral medsos dengan  maksimal

Pertanyaan 2

Imam Ratrioso G 95….

1. Bagaimana meningkatkan views di youtube ?…saya tidak punya buzzer…jadi melakukannya secara manual lewat WA atau FB untuk menshare video2 saya…tapi rasanya kok lambat sekali ya….hehehe…

https://www.youtube.com/watch?v=BIZ9JdB7IHk    ini salah satu link videonya…

JAWABAN

Sip ustadz..

Kalo semua trik sudah dijalankan rapi belum ada peningkatan, bisa jadi itu soal konten yang kurang atraktif, kurang memberi benefit, atau konten antum terlalu taktikal, memaksa prnonton yang sedang kurang mood harus membeli produk antum…? Coba dianalisa.

Pertanyaan 3

Imam Ratrioso G 95

1. kalo masih sempat ya….pertanyaan lanjutan : bagaimana kita melakukan segmentasi pada penonton kita ?…terkadang kita sulit menjembatani antara idealisme di kepala kita yg ingin kita share dg selera penonton yg maunya mudah dan kadang kurang berbobot….rada baper juga lihat video2 yg lucu dan menurut ana kurang bermutu tapi viewsnya sampai ribuan….heheheh…sedangkan kita yg idealis cuma bisa melongo….

JAWABAN

Hehe…

Ya, memang begitulah karakter netizen yg mau gak mau harus kita hadapi. Tanpa skat apapun, termasuk selera.

Tapi, menurut ana, nama CHANNEL antum di youtube adalah brand. Jadi tifak bisa sembarangan memberi nama. Nama CHANNEL dengan konten postingan harus in-line. Maka lambat laun, orang yang memang menyukai katakter konten antum akan merapat dengan sendirinya. Bahkan jika dirasa bermanfaat akan ditunggu. Mereka pasti subscribe.

Jadi, jika kita punya channel namanya misal “VIDEO LUCU”, ya jangan posting video tausiyah. Pasti akan men-distract penonton juga.. dst.

Siap, insyaAllah sukses ustadz Imam..

Sedikit tambahan, kategori konten juga sangat berpengaruh. Misal, anda bikin channel tentang “MENANAM RUMPUT VETIVER, akan sulit mengalahkan viewer channel tentang “SEPAK BOLA”, misalnya. Jadi perlu effirt lebih untuk tema2 yang kurang populer.

Pertanyaan 4

Ust Agus Maulana

1. Kalo kisaran biaya untuk pembuatan

company profile bagaimana?

JAWABAN

Nahh, ini yang agak absurd..

Metoda penghitungan budget sebuah produksi film, sangat bergantung pada script, storyboard atau director’s treatment. Jadi tidak bisa kita menghitung hanya berdasarkan durasi saja.

Misal, dalam script tertulis:

“Tampak megahnya gedung-gedung pesantren dengan suasana santri sedang berjalan menuju masjid”.

Maka, treatment masing2 sutradara akan berbeda. Ada yang sekedar menshoot gedung2 menggunakan teknik tracking, ada yang menggunakan crane, ada juga yang menggunakan drone atau bahkan helycopter.

Semua itu tentu punya kualitas hasil yang berbeda2. Belum lagi equipment apa yang digunakan.

Otomatis, harganya pun akan sangat berbeda…

Jadi kalo ada klien biasanya pesan ke produser dengan kalimat: ” jangan mahal-mahal ya…”

Itu sama dan sebangun dengan kalimat; “jangan bagus-bagus ya…..”

Hehe…

Pertanyaan 5

1. Antum jalan sendiri atau gabung dg suatu korporasi dalam bidang ini ust sigit ?

JAWABAN

Ana freelance ustadz. Hampir semua director/sutradara sama kaya aktor. Freelance semua, jadi kita bisa bekerja dengan PH manapun…

Pertanyaan 6

Ustadz  ABR

1 Apa nama channel TV antum?

2 mohon dishare sini portofolio TVC antum order dari sesama khirij

3 kapan pesantren Daarul Aflam dilaunching?

JAWABAN

Waduh, haha…

Siapp, showreel atau portfolio ana bisa dilihat di sini:

www.sigitariansyah.com

www.youtube.com/sigstudio

blog.sigitariansyah.com

CLOSING

Berhubung ini adalah Forum Bisnis, maka sengaja saya batasi penyampaian dalam ruang advertising dan promosi melalui video-ad seperti di atas.

Namun begitu, karena insyaAllah banyak Da’i juga di forum ini, saya mengingatkan kembali bahwa media visual juga sangat efektif sebagai media da’wah, sehingga layak untuk dipertimbangkan. Tapi tentu saja, wajib menggunakan manajemen dan strategi yang tertata, terukur benar. Buktinya sekarang banyak produser non-muslim memproduce film-film Islami meskipun hanya untuk sekedar tujuan nafkah. Hehe…

Jadi saya mohon maaf, sepertinya kali ini belum memungkinkan bagi saya untuk berbicara teknis sinematografi atau dramaturgi di forum ini seperti yang diajukan pertama kali ke saya, karena terbatasnya ruang untuk delivery materi teknis yang sangat detil dan banyak. InsyaAllah di lain kesempatan/forum saya akan share tentang sinematografi, manajemen produksi film atau audio-visual yang baik dan benar.

Demikian yang bisa saya bagikan di forum terbatas ini, murni berdasarkan sedikit pengalaman saya sebagai filmmaker dan pelaku industri film iklan atau TVC. Ingat, bukan bidang entertainment ya.. dari dulu ana paling gak pernah sreg disebut entertainer. Ana bukan penghibur..! (curcol dikit..)😊

Anyway, siapa tahu sedikit materi ini bisa menjadi bahan pemikiran dan diskusi lebih lanjut.

Ya, hanya sebatas pendapat yang bisa saya sampaikan, bukan kebenaran. Sebab selama itu datang dari manusia, ‘kebenaran’ akan selalu bersifat subyektif dan temporer. Kebenaran yang kita yakini hari ini, belum tentu besok pagi masih benar.

Wallaahu a’lam bisshawaab….

Semoga bermanfaat, maaf bila ada salah jempol dalam mengetik atau ungkapan yang kurang berkenan.

Hormat saya setinggi-tingginya, semoga sukses dalam limpahan berkah Allah untuk antum semua….

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Ditulis oleh: Forbis
Tim IT Forum Bisnis (FORBIS) PP IKPM Gontor