Catatan ~Agus Maulana

Ketika Nilai Gontor Bertemu Budaya Jepang: Kisah Sukses Andi Syahputra Membangun LPK Jepang di Berbagai Daerah

Ketika Nilai Gontor Bertemu Budaya Jepang: Kisah Sukses Andi Syahputra Membangun LPK Jepang di Berbagai Daerah

Dua kali ditolak calon istri hanya karena belum punya penghasilan yang layak—itulah luka awal yang membekas dalam diri Andi Syahputra. Pahit memang, tapi justru pengalaman itulah yang menyalakan api tekad dalam dirinya: suatu hari ia harus sukses, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga agar bisa berarti bagi orang lain.

Di kampung halamannya, Brastagi, Sumatera Utara, Andi mengajar ngaji. Pekerjaan yang mulia, tetapi di dalam hati ia sadar: pengabdian ini belum cukup menjawab kebutuhan hidupnya. Hingga suatu hari, ia dipercaya menjadi MC sebuah acara CSR perusahaan Jepang. Bukan sekadar tugas seremonial, momen itu justru menjadi titik balik. Di hadapannya, ia menyaksikan orang-orang Jepang dengan disiplin, etos kerja, dan penghargaan pada waktu. “Saya ingin berhasil dan punya karakter kuat seperti mereka,” tekad Andi kala itu.


Dari situlah ia mulai menapaki jalan baru. Belajar bahasa Jepang, ikut kursus di sebuah LPK, hingga akhirnya berangkat ke Negeri Sakura. Tiga tahun ia bekerja di perusahaan elektrik Jepang. Tak sekadar mencari nafkah, ia menyelami budaya mereka: menghargai detail, menjunjung disiplin, dan terus belajar. “Belajar bahasa Jepang itu artinya belajar budaya mereka,” begitu ia meyakini.

Kemampuan bahasanya yang semakin matang mengantarnya menjadi penerjemah di berbagai perusahaan Jepang di Indonesia. Bahkan, ia dipercaya menjadi manajer di beberapa bidang: dari sales marketing, HRD, hingga teknik. Para eksekutif Jepang senang dengan Andi. Bagaimana tidak? Ia bukan hanya fasih bahasa, tapi juga paham budaya Indonesia, mampu menjadi jembatan antara dua dunia.

Ekonomi Andi membaik, tapi hatinya resah. Ia teringat masa lalu: sulit mencari pekerjaan, getir menelan penolakan. Di luar sana, ia yakin banyak anak muda yang menghadapi nasib serupa. Pesan Pak Kiai di Gontor kembali bergema: khairunnas anfa‘uhum linnas—sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Maka ia pun bertekad, “Saya harus membantu mereka.”

Dari garasi rumah yang sederhana, lahirlah langkah kecil itu. Andi mulai mengajari bahasa Jepang kepada beberapa pemuda. Waktu senggangnya dipenuhi dengan mengajar, berbagi pengalaman, dan merekrut junior untuk ikut mendampingi. Kenangan masa lalu hadir kembali: ia pernah berada di posisi mereka, pemuda yang sedang belajar mengejar mimpi. Kini, ia ingin memegang tangan mereka, mengantarkan pada jalan baru.

Langkah kecil itu tumbuh menjadi besar. LPK Seikou Global Mandiri yang ia dirikan kini menjadi wadah pembelajaran efektif: hanya empat bulan, siswanya sudah bisa menguasai bahasa Jepang dasar dan lulus ujian JFT (Japan Foundation Test for Basic Japanese). Tak hanya bahasa, Andi membekali mereka dengan keterampilan teknis—perawatan lansia, restoran, perhotelan, hingga pengolahan makanan—sesuai kebutuhan dunia kerja Jepang.

Cabangnya kini tersebar: Cibitung, Karawang, Tambun, hingga Surabaya. Kolaborasi dengan investor pun ia bangun. Namun bagi Andi, yang terpenting bukan sekadar bisnis, melainkan ladang manfaat. “Saya berharap bisa membantu para alumni pesantren, membekali mereka bahasa dan keterampilan teknis. Bekerja merupakan pengalaman penting sebelum menjadi pengusaha,” ungkapnya.

Kini, selain fokus mengembangkan LPK di berbagai daerah, Andi juga aktif mengisi pelatihan dan motivasi di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan penuh semangat, ia mendorong generasi muda untuk berani bermimpi besar sekaligus menempuh jalan disiplin dalam meraihnya. Untuk menunjang pekerjaannya di masa lalu, Andi bahkan sempat menempuh studi di salah satu universitas dengan jurusan Sastra Jepang. Namun setelah bertahun-tahun meniti karier profesional di berbagai perusahaan Jepang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan sepenuhnya fokus mengembangkan bisnis serta menebar kemanfaatan bagi banyak orang.

Andi tak pernah lupa akarnya. “Saya sangat bersyukur pernah mondok di Gontor,” katanya. Disiplin, kerja keras, dan mental bertahan hidup yang ditempa semasa santri kini berbuah nyata. Nilai-nilai pondok itu berpadu dengan budaya Jepang yang ia jalani: menghargai waktu, kerja keras, dan pantang menyerah. Dari perpaduan itulah lahir seorang Andi Syahputra—pemuda Brastagi yang kini menjadi jembatan mimpi bagi banyak orang.

Saya selaku Ketua Umum Forbis IKPM Gontor pernah berkesempatan mengunjungi salah satu cabang LPK Andi di kawasan Grand Wisata Tambun yang diberi nama LPK Aiko Negara Daha. Suasana pembelajaran begitu terasa hidup. Ruang kelas dipenuhi para siswa yang tekun melafalkan percakapan bahasa Jepang, sementara di asrama mereka dibiasakan hidup tertib dan disiplin. Melihat langsung kesungguhan Andi membina generasi muda membuat saya semakin yakin: inilah bentuk nyata kontribusi alumni pesantren di bidang pengembangan SDM global.

Lebih jauh, Andi melihat Forbis IKPM Gontor sebagai ruang kolaborasi yang sangat strategis. Jaringan alumni yang luas bisa menjadi sarana penguatan skill bagi para santri dan lulusan pesantren. “Bahasa Jepang dan skill teknis bukan hanya bekal untuk bekerja di luar negeri, tapi juga modal membangun usaha di kemudian hari. Saya berharap Forbis bisa menjadi mitra dalam membangun ekosistem pembelajaran ini, agar alumni tidak hanya siap mental dan spiritual, tetapi juga memiliki keterampilan global yang diakui,” ujar Andi penuh harap.

Dengan kolaborasi itu, pesantren tidak hanya melahirkan santri yang berakhlak, tapi juga profesional yang siap bersaing di level global. Jika dulu Andi memulai dari sebuah garasi rumah, kini ribuan alumni pesantren berpeluang belajar di ruang-ruang modern yang ia bangun. Dari situlah harapan lahir: alumni pesantren siap menatap dunia dengan percaya diri, membawa nilai-nilai Islam, sekaligus kompetensi yang diakui dunia.