Inspirasi ~Admin Forbis

Bangun Bisnis Berkah ala Santri; Dr. Awaluddin Faj Tekankan Kemandirian Ekonomi Pesantren

Bangun Bisnis Berkah ala Santri; Dr. Awaluddin Faj Tekankan Kemandirian Ekonomi Pesantren

Kemandirian ekonomi pesantren menjadi isu strategis dalam penguatan dakwah dan peran santri di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Dr. Awaluddin Faj, M.Pd., dalam berbagai kesempatan, yang menegaskan pentingnya membangun ekosistem bisnis berbasis nilai-nilai pesantren.

Menurutnya, santri tidak hanya dipersiapkan sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga sebagai agen perubahan ekonomi umat. Konsep ini dikenal dengan istilah santripreneur, yakni santri yang mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan adab dan nilai keislaman.

Santripreneur: Santri Bukan Sekadar Ngaji

Dr. Awaluddin Faj menjelaskan bahwa santri memiliki modal dasar yang sangat kuat dalam dunia usaha, yaitu adab dan disiplin. Dua nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun bisnis yang jujur, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas.

Santri harus mandiri secara ekonomi agar dakwah semakin kuat,” tegasnya.
Bisnis santri bukan semata mencari keuntungan, tetapi menjadi sarana pengabdian dan kemaslahatan umat.

Tiga Pilar Utama Bisnis Santri

Dalam pandangan Dr. Awaluddin, terdapat tiga pilar utama yang harus dimiliki santripreneur:

  1. Spirituality
    Bisnis dipahami sebagai bagian dari ibadah dan jalan mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Entrepreneurship
    Santri dituntut memiliki mental tangguh, kreatif, adaptif, serta berani berinovasi.
  3. Social Impact
    Usaha yang dibangun harus mampu memberi solusi nyata bagi persoalan di sekitar pondok dan masyarakat.

Ketiga pilar ini menjadi pembeda utama antara bisnis santri dan bisnis konvensional.

Strategi Marketplace Pesantren

Salah satu strategi yang sering ditekankan Dr. Awaluddin adalah konsep marketplace pesantren, yaitu mengubah pola konsumsi menjadi produksi.

Ekosistem ini dibagi menjadi dua sektor utama.
Pertama, internal market, di mana kebutuhan santri seperti makanan, sabun, kitab, dan perlengkapan harian dipenuhi oleh unit usaha milik pesantren sendiri.
Kedua, external market, yakni produk hasil karya santri dipasarkan kepada wali murid dan masyarakat luas.

Strategi ini dinilai mampu memperkuat ekonomi pesantren sekaligus melatih santri memahami rantai bisnis secara nyata.

Santri 4.0 dan Digitalisasi Bisnis

Memasuki era digital, santri dituntut untuk tidak gagap teknologi. Dr. Awaluddin mendorong lahirnya Santri 4.0, yaitu santri yang melek digital dan mampu memanfaatkan teknologi untuk pengembangan usaha.

Media sosial dan e-commerce dapat digunakan sebagai sarana branding produk pesantren. Konten kreatif berbasis storytelling menjadi kunci untuk menyampaikan nilai dan filosofi di balik setiap produk. Selain itu, digitalisasi manajemen keuangan dinilai penting agar bisnis pesantren lebih transparan dan profesional.

Langkah Awal Membangun Bisnis Santri

Bagi pesantren atau santri yang ingin memulai, Dr. Awaluddin menyarankan beberapa langkah strategis.
Mulai dengan mengidentifikasi potensi dan keahlian unik santri. Fokus pada unit usaha kecil yang paling dibutuhkan. Bangun kolaborasi dengan alumni dan pengusaha muslim, serta carilah mentor bisnis yang memiliki visi sejalan.

Pendekatan bertahap ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan.

Berdaya di Dunia, Berjaya di Akhirat

Pada akhirnya, bisnis santri tidak berhenti pada untung dan rugi. Lebih dari itu, ia adalah jalan keberkahan dan kontribusi sosial. Ketika santri berdaya secara finansial, peran mereka sebagai pemberi manfaat akan semakin luas.

Sebagaimana prinsip yang selalu ditekankan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Santri yang mandiri adalah santri yang mampu menguatkan dakwah, pesantren, dan umat secara bersama-sama.