Kabar ~Husain Sanusi

FORBIS Roadshow Jatim: Meneguhkan Kemandirian Pesantren, Menjaga Bisnis dari Jerat Kepentingan

FORBIS Roadshow Jatim: Meneguhkan Kemandirian Pesantren, Menjaga Bisnis dari Jerat Kepentingan

​MALANG – Forum Bisnis (FORBIS) IKPM Gontor kembali mengukuhkan eksistensinya sebagai motor penggerak ekonomi keumatan melalui gelaran Roadshow Jawa Timur yang bertempat di STAI Ma’had Aly Al-Hikam, Malang, Sabtu (14/02/2026).

Acara ini menjadi istimewa dengan kehadiran Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, yang memberikan wejangan tajam mengenai etika berorganisasi dan berbisnis.

​KH. Hasan Sahal: FORBIS Organisasi Penting, Bukan Alat Kepentingan

​Dalam arahannya yang penuh kekhidmatan, KH. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan para anggota FORBIS untuk meluruskan niat dalam berorganisasi.

Beliau menegaskan bahwa kehadiran beliau didasari oleh nilai strategis acara tersebut bagi umat, bukan karena dorongan pragmatis.

​”Saya datang karena acara ini penting, bukan karena kepentingan. Meskipun antum bergerak di bidang bisnis, jangan sampai terkurung oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Kalau terjebak kepentingan, antum tidak akan bisa melihat hal-hal yang benar-benar penting bagi umat,” tegas Kiai Hasan.

​Beliau juga mengingatkan bahwa di era ketidakpastian global ini, kejujuran menjadi barang langka.

Beliau berpesan agar para pengusaha pesantren tidak menghalalkan segala cara.

​”Saat ini yang benar-benar jujur mungkin hanya 85 persen, sisanya riskan terjerumus karena sulitnya menghadapi dunia internasional yang penuh teka-teki. Maka saya katakan: jangan main-main! Jangan menyuap, jangan menindas, dan jangan sombong. Boleh kalian kaya, tapi pastikan kekayaan itu tidak membuat kalian ‘lapar’ akan kehormatan dan kekuasaan sehingga kehilangan jati diri pendidikan.”

​H. Agus Maulana: Akselerasi Wakaf Produktif dan Kemandirian Ekonomi

​Senada dengan ruh kemandirian, Ketua Umum FORBIS, H. Agus Maulana, menekankan bahwa roadshow ini adalah langkah konkret untuk menjalankan amanah para Kiai.

Fokus utama FORBIS saat ini adalah mengubah aset pasif menjadi kekuatan ekonomi riil melalui optimalisasi lahan wakaf.

​”Gerakan ini adalah ikhtiar kita untuk mewujudkan kemandirian pesantren. Kita tidak hanya bicara soal dagang, tapi bagaimana mengelola wakaf produktif agar hasilnya bisa menopang operasional pendidikan di pesantren,” ujar Agus Maulana.

​Selain membahas manajemen wakaf, Roadshow kali ini juga membekali perwakilan 30 pondok pesantren dengan strategi publikasi media dan metode deteksi bakat santri.

“Kami ingin santri memiliki mapping potensi yang jelas sejak dini, sehingga saat lulus, mereka siap menjadi pejuang ekonomi yang tangguh,” tambahnya.

​Al-Hikam dan Spirit Alumni Gontor

​Tuan rumah, KH. Muhammad Nafi (Pimpinan Pesantren Al-Hikam), menyambut hangat rombongan dengan kelakar khasnya namun sarat makna. Beliau mengenang sejarah Al-Hikam yang didirikan oleh KH. Hasyim Muzadi—alumni Gontor yang satu angkatan dengan KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

​”Keluarga Muzadi itu asalnya pedagang yang berkhidmat di sosial ekonomi. Saya yakin FORBIS adalah kumpulan pengusaha yang membawa nilai Panca Jiwa Gontor, khususnya kemandirian. Di sini kita belajar bahwa bisnis bukan sekadar cari untung, tapi bagian dari pengabdian,” ungkap Kiai Nafi.

​Sinergi Lintas Pesantren
​Acara ini diikuti oleh delegasi dari 30 pesantren ternama di Jawa Timur, di antaranya:

​PM Al-Barokah Nganjuk, Al-Amien Prenduan, Thursina IIBS Malang, Darul Ukhuwwah, Al-Ishlah Lamongan, hingga Pesantren Teknologi Majapahit Mojokerto.
​Melalui Roadshow ini, FORBIS membuktikan bahwa bisnis di tangan orang pesantren adalah alat perjuangan—sebuah gerakan pendidikan yang dilakukan dengan cara-cara yang jujur, bermartabat, dan mandiri.