Catatan ~Agus Maulana

Spirit FORBIS dalam Jejak Terakhir Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA

Spirit FORBIS dalam Jejak Terakhir Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA

Catatan Ustadz Agus Maulana, Ketua Umum Forum Bisnis IKPM Gontor

Tidak semua alumni diberi kesempatan menyaksikan dari dekat seorang kiai pada fase-fase terakhir pengabdiannya—saat gagasan telah matang, pengalaman telah utuh, dan arah hidup kian jernih. Saya termasuk salah satu alumni yang beruntung. Di akhir-akhir hayat beliau, sebelum sakit menjemput, saya berkesempatan berinteraksi langsung dan mendampingi Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA dalam sejumlah agenda strategis yang hingga hari ini terasa bukan sekadar kenangan, melainkan pelajaran hidup.

Perjumpaan-perjumpaan itu merupakan kelas terbuka tentang kepemimpinan, adab, dan cara memandang ekonomi—bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai jalan pengabdian. Dari sanalah saya semakin memahami mengapa spirit FORBIS IKPM Gontor tidak lahir di ruang hampa, tetapi bertumbuh dari nilai-nilai yang beliau rawat sejak lama.

Alumni Bukan Barisan Nostalgia

Ketika mengemban amanah sebagai Ketua Umum PP IKPM Gontor pada 1988, beliau menanamkan satu prinsip yang tak pernah berubah: alumni bukan barisan nostalgia, tetapi kekuatan sejarah yang hidup. Alumni harus fungsional—menghubungkan pondok dengan umat, nilai dengan realitas, dan idealisme dengan kerja nyata.

Bagi beliau, organisasi alumni bukan tempat berhenti mengenang masa lalu, melainkan ruang menyiapkan masa depan. Gagasan inilah yang kemudian melahirkan berbagai simpul alumni: cabang-cabang IKPM di daerah, berbagai forum-forum alumni, termasuk wadah alumni pengusaha yang hari ini dikenal sebagai FORBIS.

Salah satu momen yang membekas yaitu ketika saya mendampingi beliau dalam kunjungan silaturahim ke keluarga besar Paragon Technology and Innovation—keluarga besar Wardah, Kamis, 14 Agustus 2025, bersama Rektor UNIDA Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi MA.Ed MPhil, sebelum pelaksanaan World Scout Muslim Jamboree (WSMJ). Di sana, saya melihat bagaimana seorang guru besar pesantren berbincang dengan pelaku industri nasional, tanpa kehilangan kesahajaan dan nilai.

Beliau tidak datang membawa proposal bisnis. Yang beliau bawa silaturahim, doa, dan pandangan tentang kebermanfaatan. Ekonomi, dalam cara pandang beliau, merupakan jembatan untuk memperluas amal. Kemandirian usaha bukan untuk berbangga, tetapi untuk menjaga martabat pendidikan dan keberlangsungan wakaf.

Hal serupa saya saksikan saat mendampingi beliau bersilaturahim dengan salah seorang pengusaha nasional. Dialog yang terbangun tidak semata bicara capaian dunia usaha, melainkan tentang tanggung jawab sosial, kontribusi nyata, dan bagaimana jejaring kebaikan bisa dibangun secara berkelanjutan. Dari situ saya belajar: jaringan alumni dan jejaring bisnis bukan untuk saling memanfaatkan, tetapi untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Ada momen berkesan lainnya sebelum itu. Pada Ahad, 7 Juli 2024, malam, suasana hangat dan penuh makna terasa di Sate Senayan Tebet, saat berlangsung pertemuan penting yang dihadiri oleh Bapak Pimpinan Pondok KH Hasan Abdullah Sahal, almarhum Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA, anggota Badan Wakaf KH Muhammad Danial, Ketua Umum FORBIS IKPM Gontor H Agus Maulana, serta Sekretaris Pimpinan PMDG Ust. Akrimul Hakim.

Pertemuan yang berlangsung dari pukul 19.30 hingga 21.00 WIB ini menjadi titik awal lahirnya gagasan besar rangkaian Silaturahim dan Konsolidasi Alumni Gontor, yang di dalamnya mencakup FORBIS EXPO 2024, agenda Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), serta Mubes IKPM Gontor.

KH Muhammad Danial merekomendasikan keterlibatan aktif alumni dalam penggalangan wakaf pembangunan gedung baru BPPM, serta mengusulkan agar seluruh rangkaian agenda digelar secara bersamaan demi efektivitas dan penguatan dampak. Usulan tersebut mendapat dukungan penuh dari kedua pimpinan pondok, yang langsung menginstruksikan PP IKPM, FPAG, FORBIS, Panitia 100 Tahun Gontor, dan unsur terkait lainnya untuk segera bergerak. Bahkan, agenda Mubes IKPM yang semula direncanakan akhir tahun diarahkan untuk diselenggarakan bersamaan—sebuah titah yang dijalankan dengan penuh kepatuhan: sami’na wa atha’na.

Kendati persiapan berlangsung singkat, rangkaian acara ini justru melahirkan momentum bersejarah berupa gerakan wakaf alumni untuk pembangunan New BPPM, yang dalam satu malam berhasil menghimpun komitmen wakaf senilai Rp7,1 miliar. Inilah tonggak penting yang menegaskan bahwa silaturahim, kolaborasi, dan amanah alumni—bila dirajut dalam satu niat—mampu melahirkan kekuatan nyata bagi keberlanjutan pondok dan kemaslahatan umat.

Momen Penting: Pelantikan FORBIS di Surabaya

Salah satu momen yang kini terasa sangat bersejarah adalah kehadiran langsung Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA, pada acara Pelantikan Pengurus FORBIS IKPM Gontor di Hotel Sahid Surabaya, Sabtu, 14 Desember 2024. Acara itu dihadiri para Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, ketua-ketua lembaga, serta alumni dari berbagai daerah.

Pada kesempatan tersebut, saya menerima amanah sebagai Ketua Umum FORBIS IKPM Gontor untuk periode ketiga (2024–2029). Bagi saya pribadi, pelantikan itu bukan sekadar pengukuhan struktural. Ia penguatan moral dan spiritual—karena disaksikan langsung oleh guru yang selama ini menjadi penjaga arah.

Kehadiran beliau di forum itu seakan menjadi pesan tanpa kata: bahwa FORBIS berada di jalur yang benar. Bahwa ikhtiar ekonomi alumni ini bukan penyimpangan dari nilai pondok, melainkan kelanjutan dari perjuangan wakaf dan kemandirian pesantren.

Dalam berbagai kesempatan, beliau menyampaikan rasa syukur atas keberadaan FORBIS. Namun apresiasi itu selalu diiringi harapan agar FORBIS tidak terjebak pada euforia bisnis semata. FORBIS harus menjadi ruang koordinasi, edukasi, dan kolaborasi—tempat alumni saling menguatkan, bukan saling menegasikan.

Sebagian jejak perjalanan ini telah terdokumentasi dalam berbagai tulisan di forbis.id. Tetapi di balik dokumentasi itu, ada ruh yang tidak selalu tertulis: ruh keikhlasan, kebersamaan, dan orientasi wakaf—nilai yang terus beliau titipkan hingga akhir hayatnya.

Kepergian beliau meninggalkan duka, tetapi juga kejelasan arah. Bagi kami yang pernah berinteraksi langsung, warisan itu terasa personal. Ia bukan sekadar kisah seorang tokoh, tetapi amanah yang harus dijaga.

FORBIS IKPM Gontor hari ini memikul spirit itu: merajut jejaring alumni, menguatkan ekonomi, dan menjaga ruh wakaf. Setiap silaturahim usaha, setiap kolaborasi alumni, dan setiap manfaat yang kembali ke pondok—itulah cara kami menjaga jejak beliau tetap hidup.

Sebagaimana pelajaran paling sunyi yang beliau ajarkan: hidup boleh berakhir, tetapi amal harus terus berjalan. []