Catatan Agus Maulana, Ketua Umum Forum Bisnis IKPM Gontor
Perjalanan menuju Roadshow Forbis IKPM Gontor Batch 3 di Malang membawa saya singgah sejenak di sebuah desa yang tenang, sekitar 15 menit dari Stasiun Kertosono. Di Desa Trayang itulah berdiri Pesantren Insan Kamil—yang lebih dikenal masyarakat sebagai “Pesantren Alpukat”.
Nama “Alfukaat” yang melekat bukan sekadar permainan bunyi dari kata alpukat. Ia adalah akronim dari Alfu Barokaat—seribu keberkahan. Dan keberkahan itu benar-benar diupayakan, bukan hanya didoakan.
Saya disambut langsung oleh founder dan penggagasnya, Pak Darul Farokhi, didampingi putra-putrinya. Sosok yang tenang namun penuh gagasan ini pernah menjadi tangan kanan Dahlan Iskan di Jawa Pos Group. Pengalaman panjangnya di dunia profesional tidak menjadikannya berhenti di zona nyaman, melainkan justru membawanya pulang untuk membangun kemandirian umat.
Di bawah sentuhannya, PCNU Nganjuk memiliki unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan brand Nucless, memanfaatkan modal sosial jamaah nahdiyin. Tidak mudah memang mentransformasikan kekuatan sosial menjadi kekuatan ekonomi. Namun Pak Darul tidak berhenti. Ia menggagas Nuclear, rokok herbal untuk komunitas nahdiyin, sebagai ikhtiar pemberdayaan berbasis jaringan.
Menariknya, meski bukan alumni Gontor, kelima putra-putrinya adalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Mustafa Kamal (2011), Nubula Abror (2012), Farah (GP 2014), Rima (GP 2016), dan Dzulfiqor (2020). Sebuah keluarga yang memilih jalur kaderisasi pendidikan sebagai fondasi perjuangan ekonomi.
Ekosistem Pesantren yang Hidup
Memasuki kawasan pesantren, mata langsung dimanjakan oleh pohon-pohon alpukat yang tumbuh di berbagai sudut, di antara bangunan joglo dan limasan khas Jawa yang estetik. Di ujung lahan, ribuan bibit alpukat dalam polibag besar berjejer rapi, siap dikirim ke berbagai daerah dan pesantren.
Program wakaf bibit yang mereka jalankan telah menanam lebih dari 1.000 bibit alpukat di 37 pesantren di Indonesia. Bukan sekadar bisnis, tetapi gerakan ekonomi berbasis jaringan pesantren.Namun kejutan terbesar justru ada di sudut lain pondok. Di sana berdiri kandang modern yang menampung ratusan ekor domba. Inilah Dombastis—Breeding & Trading Center berbasis pesantren pertama di Nganjuk
Dombanya bukan sembarang domba. Pejantan Fullblood Dorper impor disilangkan dengan betina cross Texel, menghasilkan domba F1 dengan pertumbuhan cepat dan kualitas daging unggul.
Ustadz Mustafa Kamal, alumni 2011, yang merupakan putra pertama Pak Darul, yang menjemput saya di stasiun, menjelaskan konsep integrasi tersebut. “Kami ingin sektor pertanian dan peternakan ini saling mendukung. Kotoran domba menjadi kompos untuk alpukat. Alpukat menjadi basis ekonomi jangka panjang. Ini ekosistem, bukan usaha tunggal,” ujarnya. Inilah yang mereka sebut sebagai Agro-Sociopreneur berbasis pesantren.

Pesantren Insan Kamil tidak ingin santrinya hanya pandai berteori. Mereka ingin santri mampu memegang cangkul, mengelola kandang, memahami siklus breeding, dan membaca peluang pasar.
Di tempat ini, santri belajar bahwa ekonomi bukan sekadar angka, melainkan ikhtiar membangun kemandirian umat. Visi mereka sederhana namun besar: “Pesantren Mandiri, Umat Berdikari.”
Dan di Desa Trayang, visi itu tidak hanya tertulis di dinding.
Ia tumbuh di pohon alpukat.
Ia bergerak di kandang-kandang domba.
Ia hidup di tangan para santri.
Kolaborasi Forbis dan Pesantren bersama Yakaafi
Karena itu, Forbis—sebagai wadah alumni Gontor yang bergerak di bidang kewirausahaan—melihat Pesantren Insan Kamil sebagai model nyata ekosistem ekonomi pesantren yang bisa direplikasi. Bersama Yakaafi, lembaga yang fokus pada pembinaan dan penguatan kader pesantren, kolaborasi ini diarahkan bukan sekadar pada kunjungan atau studi banding, tetapi pelatihan intensif yang terstruktur.
Selama tiga bulan penuh, para kader pondok akan dididik langsung melalui praktik budidaya domba dan alpukat di Pesantren Insan Kamil. Program ini akan dibiayai oleh Yakaafi sebagai bentuk komitmen dalam menyiapkan kader-kader pesantren yang tidak hanya kuat secara nilai, tetapi juga terampil secara teknis dan siap membangun kemandirian ekonomi di daerahnya masing-masing.
Forbis berkolaborasi dengan Yakaafi akan menyelenggarakan program pelatihan intensif selama tiga bulan penuh bagi kader pondok di bidang budidaya domba dan alpukat. Pelatihan berbasis praktik langsung ini akan menjadikan Pesantren Insan Kamil sebagai laboratorium hidup.







