FORBIS.ID — Belasan tahun lalu, di sudut ruang kelas sebuah kampus IT di Bandung, seorang pemuda menatap layar monitor dengan canggung. Jari-jarinya kaku menari di atas keyboard. Alih-alih mengetik dengan cepat, ia mengeja tuts demi tuts menggunakan “sebelas jari”—hanya mengandalkan dua telunjuk kanan dan kiri.
Siapa sangka, pemuda yang kala itu gagap teknologi kini adalah sosok di balik Epployee, sebuah startup Human Resources Information System (HRIS) berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang layanannya telah menembus batas negara, dari sabang sampai benua Afrika dan Australia.
Dia adalah Bukhari Mardius. Lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2009 yang juga tercatat sebagai anggota aktif FORBIS (Forum Bisnis) IKPM Gontor ini adalah anomali di dunia teknologi. Kisahnya bukan tentang anak jenius Silicon Valley yang coding sejak SD, melainkan tentang determinasi, kebangkitan dari keterpurukan, dan keberanian mendisrupsi pasar.

Titik Nadir yang Menjadi Titik Balik
“Saya bahkan tidak menduga bisa menjadi seperti saat ini,” ungkap Bukhari sembari tersenyum hangat saat kami berbincang di kawasan Jatibening, Bekasi.
Perjalanannya masuk ke dunia teknologi berawal dari ketidaksengajaan. Saat mengabdi di Pondok Pesantren Assalam Subang pada 2010, ia bertemu pimpinan sebuah kampus teknologi asal Bandung yang menawarkan beasiswa penuh. Bukhari mengambil lompatan iman itu.
Namun, realita kampus teknik tak semanis tawaran beasiswanya. Ketidakmampuannya beradaptasi dengan teknologi membuat nilai akademiknya hancur lebur. Pada dua semester pertama, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya hanya bertengger di angka 2,2 dan 2,4. Buntutnya tragis: beasiswanya dicabut.
Bagi banyak orang, itu adalah momen untuk menyerah. Namun, di sinilah mental seorang santri berbicara. Berpegang teguh pada pepatah Arab (mahfudzhat) Jarrib wa lahizh Takun ‘Arifan—”Cobalah, kelak kau akan mengetahuinya”—Bukhari menolak kalah.
“Saya hanya berpikir tentang kelanjutan studi. Sejak itu, saya mulai belajar sendiri, jualan kecil-kecilan untuk bertahan hidup, sambil fokus belajar coding,” kenangnya matanya menerawang.
Kerja keras dalam kesunyian itu berbuah manis. Di semester tiga, grafiknya meroket tajam. IPK-nya melompat ke 3,4 dan puncaknya menyentuh 3,9. Rasa frustrasinya berubah menjadi cinta yang mendalam saat ia berhasil membangun website pertamanya. “Kalau sudah lihat hasilnya secara visual, itu jadi asyik. Dari situ, saya benar-benar jatuh cinta pada teknologi.”

“Bootstrap”, Kuasa Kolaborasi, dan Pembuktian di NextDev
Cinta pada teknologi saja tak cukup untuk membangun kerajaan bisnis. Bukhari sadar, ia butuh superteam. Melalui kuatnya jaringan komunitas FORBIS IKPM Gontor, ia kemudian menggandeng dua kawan lamanya sesama alumni pesantren tersebut: Johannes, seorang pakar HR lulusan Newcastle University, dan Egan, ahli finansial dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Trio ini mendirikan Epployee dengan sebuah anomali bisnis yang mengejutkan: Modal Nol Rupiah.
Ketika startup lain sibuk membakar uang investor (burn rate), Bukhari dan timnya melakukan bootstrap murni. Suntikan dana pertama mereka justru datang dari sebuah kompetisi internasional di Istanbul, Turki, di mana mereka membawa pulang voucer senilai USD 5.000.
“Kami mengombinasikan skill. Saya di teknologi, Egan di finance, Johannes di human resources. Percaya atau tidak, modal pendirian Epployee nol. Tidak ada uang pribadi yang keluar sama sekali,” ujar Bukhari bangga.
Kejeniusan bootstrap dan inovasi mereka semakin terbukti ketika Epployee mengikuti The NextDev by Telkomsel, program inkubasi dan akselerator startup bergengsi yang berfokus mencari inovator digital dengan dampak sosial dan ekonomi di Indonesia. Di ajang unjuk gigi para talenta digital terbaik Tanah Air tersebut, Bukhari dan tim sukses membawa Epployee menyabet gelar Runner-up.
Pengakuan dari inkubator sekelas Telkomsel ini menjadi validasi kuat bahwa solusi HR berbasis AI yang ditawarkan Epployee bukan sekadar utopia, melainkan inovasi riil yang menjawab tantangan industri masa kini.

Mendisrupsi Pasar dengan AI dan Empati
Lantas, bagaimana aplikasi “tanpa modal” ini bisa menembus klien-klien raksasa seperti Gunung Sewu Group dan mengantarkan Dompet Dhuafa meraih penghargaan Transformasi Digital Terbaik Nasional 2023?
Jawabannya ada pada empati dan visi jauh ke depan.
Di saat penyedia HRIS lain bersikap kaku, Epployee datang dengan pendekatan tailor-made. “Kalau yang lain, perusahaan yang harus ikut sistem mereka. Kalau kita sebaliknya, sistem harus mengikuti (kultur) perusahaan,” tegasnya.
Epployee mencari celah di industri dengan sistem kerja yang sangat kompleks, seperti perusahaan multi-shifting. Mereka juga melesat karena mencuri start di bidang teknologi. “Kita sudah pakai teknologi AI sejak 2021, jauh sebelum tren AI booming seperti sekarang.”
Kini, dengan fitur andalan seperti face recognition, emotion analysis, hingga smart assistant, Epployee menangani lebih dari 150 perusahaan, rumah sakit, LSM, hingga raksasa pertambangan.
Pandemi COVID-19 yang melumpuhkan banyak bisnis justru menjadi katalis bagi Epployee. Lonjakan kebutuhan absensi tanpa tatap muka mengantarkan mereka pada profitabilitas yang solid. Lebih jauh lagi, sayap mereka kini mengepak hingga ke Botswana, Singapura, dan tengah mempersiapkan ekspansi ke Australia.

Resep Rahasia: Klien adalah Investor
Menariknya, meski valuasi dan jangkauannya terus membesar, Bukhari tidak kemaruk mencari funding atau Venture Capital (VC).
“Kita fokus pada penyelesaian masalah. Kalau klien kita puas, mereka yang akan otomatis menjadi marketing kita. Kami ingin Epployee ini berkah. Jika itu artinya tanpa investor luar, itu tidak masalah,” tutur pria berdarah Minang, Sulit Air, Sumatera Barat ini. Baginya, slogan ‘Tumbuh Bersama’ bukan sekadar gimmick PR, melainkan DNA perusahaan.
Ke depan, ambisi Bukhari tak berhenti pada sekadar pencatatan absensi atau payroll. Ia sedang mengembangkan AI yang mampu memberikan rekomendasi strategis bagi perusahaan, seperti memprediksi kelayakan promosi jabatan seorang karyawan atau mengidentifikasi kebutuhan pelatihan mereka.
Di akhir perbincangan, Bukhari menitipkan pesan yang menggema keras, tidak hanya bagi para santri, tapi bagi siapa saja yang ragu untuk memulai bermimpi besar.
“Jangan takut mencoba hal baru, sekalipun berujung kegagalan. Saya juga pernah gagal, dan dari situ saya belajar banyak,” tuturnya pelan namun pasti. “Perjalanan menjadi founder startup global tidak dihasilkan secara instan. Ia diraih dari kombinasi nilai, kerja keras, dan strategi. Yang penting bukan dari mana kita mulai, tetapi mau jalan atau tidak.”
Dari menekan keyboard dengan dua telunjuk, kini Bukhari Mardius menggunakan tangannya untuk merangkul dan mendisrupsi dunia HR global. Sebuah bukti sahih bahwa masa lalu tidak pernah mendikte masa depan bagi mereka yang menolak untuk menyerah. (*)








