“Setiap zaman ada tokohnya. Setiap medan punya pahlawannya. Dan di antara bintang-bintang itu, satu nama bersinar terang dari Malang Raya: David Rusdianto.”
FORBIS.ID– Di antara deretan alumni Gontor yang aktif dan berdedikasi, David Rusdianto adalah salah satu yang namanya tak pernah luput dari perbincangan hangat. Ia bukan hanya dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses, tapi juga sosok yang selalu hadir ketika panggilan khidmat kepada almamater bergema.
David adalah Ketua IKPM Malang Raya, alumni 2000 angkatan Laviola. Sejak lama saya mengenalnya sebagai pribadi yang tenang, cerdas, dan punya energi ketulusan yang jarang dimiliki. Kini, ia juga mendapat amanah sebagai Sekretaris Jenderal Forum Bisnis IKPM Gontor periode 2024–2029.
Saya masih ingat betul saat saya melantik pengurus Forbis Cabang Malang, di mana David memegang tampuk kepemimpinan. Tatapan matanya penuh semangat, tapi tetap teduh. Ia bicara dengan tenang, tetapi isinya dalam dan menggugah. Dalam diamnya, ada tekad baja. Dalam senyumnya, ada khidmat yang membara.
Mesin Uang yang Dimulai dari Kios Pulsa
Banyak yang mungkin hanya melihat David hari ini—dengan perusahaan telekomunikasinya, Oasis Reload, dan kesuksesan finansialnya. Tapi sedikit yang tahu bahwa semuanya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah kios pulsa kecil hasil patungan semasa kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, tahun 2005.
Dari kios sederhana itu, lahirlah PT Dedayu Opus Maxima, yang menjadi rumah bagi brand Oasis Reload—layanan top-up digital yang kini melayani ribuan pelanggan dengan sistem cepat dan aman. Tapi jalan menuju ke sana bukan lurus dan lapang.
David sempat mencoba bisnis kuliner dengan membuka café, yang akhirnya tutup hanya dalam hitungan bulan. Ia bermitra dengan klub sepakbola Arema Malang untuk penjualan merchandise dan tiket—dan justru menambah utang. Sampai akhirnya, ia harus menghadapi kenyataan pahit: terlilit utang bank sebesar 6 miliar rupiah.
Bayangkan, setiap bulan ia harus menyetor cicilan besar, sementara pemasukan dari usahanya belum cukup menutupi beban. Tekanan itu luar biasa. Tapi David tidak menyerah.
Di titik inilah saya percaya bahwa seseorang sedang diuji bukan untuk dijatuhkan, tetapi untuk ditinggikan derajatnya. David mulai belajar akuntansi, mencermati setiap aliran uang, dan fokus menata ulang bisnis pulsa yang dulu sempat ia anggap remeh.
Lalu datanglah momen kebangkitan. Bisnis pulsa dan kuota melonjak, dan David bisa melunasi utang-utangnya. Bahkan, ia menjual beberapa aset pribadi demi satu hal yang prinsipil: lepas dari jeratan riba. Sebuah keputusan spiritual yang tak semua orang berani tempuh.

PTM: Sebuah Pesantren sebagai Wujud Birrul Walidain
Setelah badai berlalu, sebagian orang mungkin memilih menikmati pelangi dan bersantai. Tapi tidak dengan David. Justru di puncak keberhasilan, ia semakin gelisah. Ada harapan lama dari orang tuanya yang terus bergema di benaknya: “David, kapan kamu bangun pesantren?”
Bagi David, ini bukan sekadar permintaan, tapi amanah hati yang lama ia simpan. Maka lahirlah Pesantren Teknologi Majapahit (PTM) di Mojokerto, bukan hanya sebagai bentuk birrul walidain—bakti kepada kedua orang tuanya—tetapi juga sebagai terminal kesalehan sosialnya.
PTM adalah kombinasi indah antara nilai-nilai Islam dan semangat kemajuan teknologi. Sebuah pesantren yang ingin membekali santri bukan hanya dengan iman dan akhlak, tapi juga skill digital, agar mereka siap menjadi generasi unggul masa depan.

Khidmat Tanpa Pamrih
Satu hal yang tak pernah berubah dari David adalah semangat khidmatnya kepada Gontor. Ia hadir bukan untuk mencari nama. Ia bekerja bukan untuk dipuji. Tapi karena cinta. Dan cinta yang seperti ini, tak pernah bisa dibeli atau ditiru.
Saya menjadi saksi bagaimana ia menghidupkan Forbis Cabang Malang. Bagaimana ia menyambut tamu, menyiapkan acara, dan bahkan menggelar program-program pelatihan dengan penuh semangat. Dalam setiap geraknya, ada pesan: “Ini bukan tentang saya. Ini tentang kita. Tentang Gontor.”
Penutup: Bintang yang Terus Menyinari
David Rusdianto adalah gambaran nyata bahwa kesuksesan itu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling istiqamah. Ia pernah jatuh, tapi tak pernah menyerah. Ia pernah tertimpa beban berat, tapi tetap tegak dengan senyum dan doa.
Dan hari ini, kita tak hanya mengenalnya sebagai pengusaha. Tapi juga sebagai pejuang. Seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya. Seorang alumni yang terus berbakti pada pondoknya. Seorang sahabat yang selalu menginspirasi kita semua.
Semoga Allah memberkahi langkahnya, menumbuhkan pesantrennya, dan menjadikannya lentera yang terus bersinar untuk ummat.