GONTOR – Menyambut momentum satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, Forum Bisnis (FORBIS) IKPM Gontor siap menggelar perhelatan akbar bertajuk FORBIS National Economic Summit & Expo 2026.
Agenda besar yang dijadwalkan berlangsung di Kampus Pondok Modern Gontor pada 19-21 Juni 2026 mendatang ini diproyeksikan menjadi titik balik kebangkitan ekonomi berbasis pesantren di Indonesia.
Keikutsertaan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) dan Forum Maahid wa Madaris Tahfidz Quran Indonesia (FORMAQIN) dalam perhelatan ini menjadi wujud nyata bahwa kolaborasi antara pengusaha dan asosiasi pesantren dengan berbagai variannya mampu berjalan beriringan demi memajukan ekonomi umat.
Ketua Umum FORBIS, Agus Maulana, menyatakan bahwa memasuki abad kedua Gontor, tantangan utama yang dihadapi bukan lagi sekadar membangun sistem pendidikan, melainkan menata kemandirian ekonomi jaringan pesantren.
Melalui ajang ini, FORBIS berkomitmen merajut potensi ekonomi alumni yang selama ini terserak untuk disatukan dalam satu barisan yang solid.
“Kemandirian ekonomi adalah kunci agar institusi pendidikan Islam tidak lagi dipandang sebelah mata. Tugas kita sekarang adalah menata bagaimana pesantren-pesantren alumni bisa mandiri secara ekonomi melalui kekuatan jaringan alumni yang saling bersinergi,” ujar Agus Maulana.
Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa FORBIS mampu memosisikan diri sebagai penghubung strategis untuk mempererat asosiasi pesantren yang memiliki karakteristik dan varian berbeda, mulai dari pesantren Ashriyah (modern), Salafiyah (tradisional), hingga Ma’had Tahfidz Al-Quran yang diwakili oleh FORMAQIN.
Lahirnya Generasi Pengusaha Ber-“DNA” Kyai
Menurut Agus, selama ini publik lebih mengenal Gontor sebagai rahim yang melahirkan para kyai, pimpinan pesantren, dan pendidik agama.
Namun, sejarah mencatat lembaga pendidikan ini juga berhasil mencetak generasi pengusaha yang mandiri, tangguh di pasar, dan tidak bergantung pada pihak lain.
Uniknya, para pebisnis jebolan pesantren ini dinilai memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan pelaku usaha pada umumnya.
“Mereka mengejar dunia dengan ketangkasan profesional, namun menggenggamnya dengan hati yang sepenuhnya tertuju pada perjuangan umat. Harta bagi mereka adalah ‘bensin’ untuk menggerakkan roda dakwah, membangun fasilitas pendidikan, dan memastikan syiar Islam tidak terhenti karena kendala biaya. Inilah yang kami sebut sebagai Pengusaha ber-‘DNA’ Kyai,” jelasnya.
Fenomena “Pengusaha-Kyai” ini tercermin dari struktur kepengurusan FORBIS saat ini, yang mayoritas diisi oleh para pelaku usaha yang sekaligus menjabat sebagai pimpinan pesantren. Setelah disibukkan dengan strategi pasar dan urusan korporasi, mereka kembali ke lembaga masing-masing untuk mendidik santri serta menjaga moralitas umat.
Expo 2026 ini dirancang sebagai ruang kolaborasi inklusif yang mempertemukan kekuatan ekonomi alumni dengan kebutuhan strategis pesantren.
Guna memperkuat visi tersebut, panitia akan menghadirkan sejumlah tokoh nasional serta jaringan strategis keagamaan.
Menghadirkan pengusaha nasional Chairul Tanjung untuk berbagi visi ekonomi, bersanding dengan para pimpinan pesantren alumni.
Melibatkan asosiasi besar seperti FPAG dan FORMAQIN untuk membangun ekosistem ekonomi pesantren lintas varian yang terintegrasi.
Menjadi pembuktian bahwa bisnis dapat tumbuh pesat tanpa kehilangan akar spiritualitas dan nilai-nilai Islam.
Melalui FORBIS National Economic Summit & Expo 2026, seluruh elemen masyarakat dan alumni Gontor diajak untuk menyaksikan langsung pergerakan energi ekonomi umat yang dibangun dari dalam pesantren.
Ajang ini diharapkan menjadi saksi mulainya era baru, di mana pesantren tidak hanya berdiri sebagai pusat ilmu agama, tetapi juga menjelma sebagai pilar kekuatan ekonomi bangsa yang mandiri dan berwibawa.









