Menjejaki Perkembangan e-Commerce Di Indonesia

Menjejaki Perkembangan e-Commerce Di Indonesia

FORBIS// Sejak pademi covid-19 mulai merebak di Indonesia, kebijakan pemerintah mengharuskan warga memaksimalkan koneksi internet dalam aktivitas sehari-hari. Dari bekerja atau berkantor secara online hingga demi memutus mata rantai penularan covid, belanja kebutuhan secara online sudah pasti meningkat. Bahkan belajar secara online pun diberlakukan. 

Kondisi ini berdampak meningkatnya jasa layanan online, dan e-commerce termasuk lalu lintas transaksi onlinenya sangat padat. Khusus e-commerce, bukan saja saat pandemi mulai berkembang, namun sebelum pandemi e-commerce sudah digalakkan. 

Sebut saja para pemain besar sudah mulai menjajaki peluang itu, mulai dari toko online milik Lippo Group sampai Unicorn seperti Bukalapak dan Tokopedia. 

Daniel Tumiwa, Anggota Dewan Pembina idEA menjelaskan urutan perkembangan e-commerce di Indonesia berikut ini: 

Dimulai dari berdirinya Indosat tahun 1994 yang merupakan ISP(Internet Service Provider) komersial pertama di Indonesia. Dan pada tahun 1999 muncul Kaskus yang didirikan oleh Andrew Darwis. Lalu menyusul Bhinneka.com. Memasuki tahun 2000-an muncul Lippo Shop atau jualan online dari Lippo Group. 

Draft undang-undang e-commerce disusun pemerintah pada tahun 2001, dan tahun 2003 muncul multiply.com. Dan pada tahun 2005 muncul situs jual beli dan iklan Tokobagus. Dan pada 2007 muncul layanan uang elektonik Doku. Dan tahun 2009 Tokopedia berdiri. 

Perkembangan berikutnya merambah di bidang jasa transportasi yaitu pada 2010 muncul Gojek online yang didirikan oleh Nadiem Makarim. Lalu Achmad Zacky beserta dua orang temannya yaitu Nugroho Herucahyono dan Muhamad Fajrin Rasyid mendirikan Bukalapak pada tahun 2010. 

Djarum juga ambil bagian dalam perkembangan e-commerce ini yaitu mendirikan Blibli.com pada tahun 2010. Jadi pada tahun yang sama dengan Bukalapak. 

Tidak lama menunggu, di bidang layanan tiket pun terjadi perubahan drastis, pada 2011 online  tiket.com pun hadir. Traveloka juga tak ingin ketinggalan bersaing, muncul pada 2012, di tahun ini juga idEA hadir. 

Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yang diikuti oleh 150 perusahaan muncul pada tahun 2012.  Di tahun ini juga Lazada Group mulai beroperasi di jagat Indonesia, kemudian Zalora juga tak ketinggalan. 

Pada 2014, investasi sebesar $100 juta didapatkan oleh Tokopedia. Kemudian Tokobagus dan Berniaga bergabung dengan nama OLX Indonesia. Pada tahun ini juga, Telkom meluncurkan blanja.com. 

Shopee masuk ke Indonesia pada akhir tahun 2015 atau bulan Desember. Dan tidak memakan waktu yang lama, Shopee berhasil menguasai pasar dengan berbagai promosinya. 

Pada Tahun 2017-2019, Pemerintah melalui Peraturan Presiden(Perpres) Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce) diluncurkan. 

Bukalapak pada tahun 2019 melakukan PHK Massal karyawan demi bisa menjadi unicorn pertama yang mendapatkan keuntungan. 

Dan tahun 2020 adalah hari terakhir bagi blanja.com dalam persaingan e-commerce ini, sehingga tak lagi menjual produk atau tutup. Meski begitu, diprediksi bahwa tahun 2021 akan terus mengalami perkembangan yang signifikan, atau mengalami tren yang terus berlangsung, baik pada masa pandemi ini maupun dalam keadaan normal baru nanti. 

Adapun Shopee, mengurai bahwa ada 3 prediksi yang paling berpengaruh dalam ekosistem e-commerce di tahun 2021 ini, yaitu pembayaran, logistik, dan penjualan. 

Handhika Jahja, Direktur Shopee mengatakan bahwa tahun 2020 adalah tahun yang tranformatif untuk pelaku e-commerce. Sebab konsumen harus mengikuti aturan social distancing dan lebih banyak beraktivitas di rumah, sehingga mereka menggunakan platform online dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mencari hiburan dan interaksi. 

Ekosistem e-commerce juga meningkatkan pembayaran secara digital, sehingga metode ini mengalihkan dari tunai ke non-tunai, dan masyarakat semakin lama semakin terbiasa. Dan untuk Shopee sendiri juga telah menawarkan berbagai pembayaran digital, salah satunya adalah ShopeePay, dan tercatat terjadinya peningkatan transaksi 4 kali lipat yang menggunakan ShopeePay di seluruh negara dimana Shopee beroperasi. 

Yang menarik, peningkatan transaksi itu tercatat yang melakukannya dominan umur 50 tahun ke atas, yang  digambarkan sebagai umur yang sulit beradaptasi dengan kebiasaan baru di dunia e-commerce. Dan hal ini sejalan dengan imbauan pemerintah bahwa saat Pandemi lakukanlah transaksi secara nontunai. 

Social distancing yang membatasi pergerakan masyarakat memicu pembayaran nontunai semakin meningkat, yang secara otomatis sistem pembayaran non-tunai itu harus memberikan kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi. 

Bukan hanya pengguna aplikasi Shopee yang bisa memakai ShopeePay, tetapi jumlah pedagang offline yang menggunakan ShopeePay meningkat 9 kali lipat pada tahun 2020, termasuk mitra seperti McDonald’s, Chatime, dan Alfamart. 

Ditulis oleh: Forbis
Tim IT Forum Bisnis (FORBIS) PP IKPM Gontor