FORBIS.ID– 100 tahun perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor bukanlah sekadar angka di atas kalender sejarah.
Usia 100 tahun ini adalah sebuah momentum kesyukuran atas eksistensi yang terus berkembang, sebuah bukti bahwa nilai-nilai keikhlasan dan kemandirian mampu bertahan melintasi zaman.
Gontor menginjak usia seabad bukan hanya untuk sebuah peringatan seremonial, melainkan untuk menegaskan perannya dalam membangun peradaban dunia.
Salah satu legacy paling nyata yang bisa kita saksikan hari ini adalah lahirnya ribuan lembaga pendidikan pesantren modern di seluruh penjuru negeri.
Pesantren-pesantren ini lahir dari rahim yang sama, mengusung nafas kemandirian, dan mendidik santri dengan karakter yang tangguh.
Namun, di balik keberhasilan mencetak para pendidik agama, ada satu sisi yang sering kali luput dari sorotan kamera sejarah: keberhasilan Gontor dalam mendidik alumni yang mandiri secara ekonomi.
Selama ini, publik mungkin hanya melihat Gontor sebagai rahim bagi para Kyai dan pimpinan pesantren dengan beragam coraknya.
Namun, sejarah mencatat bahwa Gontor juga melahirkan generasi pengusaha yang tidak bergantung pada pihak lain.
Mereka membangun unit-unit usaha yang tidak hanya melayani kebutuhan internal santri, tetapi juga menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat umum di sekitar mereka.
Munculnya para pengusaha sukses dari kalangan alumni Gontor adalah sebuah keniscayaan dari didikan Panca Jiwa Kemandirian yang tertanam kuat.
Sejak berdirinya Forum Bisnis (FORBIS) IKPM Gontor pada tahun 2016, kita melihat gambaran nyata pertumbuhan ekonomi alumni dari skala menengah hingga atas.
FORBIS hadir sebagai wadah untuk merajut potensi-potensi yang selama ini terserak, menyatukannya dalam satu barisan ekonomi yang solid.
Namun, pengusaha alumni Gontor ini memiliki ciri khas unik yang membedakannya dengan pebisnis pada umumnya.
Yaitu cara mereka memandang harta dari keuntungan bisnisnya. Bagi mereka, kesuksesan finansial bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah instrumen atau kendaraan untuk mencapai tujuan yang lebih mulia: Li i’la’i kalimatillah.
Inilah yang kami sebut sebagai Pengusaha ber-“DNA” Kyai.
Mereka mengejar dunia dengan ketangkasan profesional, namun menggenggamnya dengan hati yang sepenuhnya tertuju pada perjuangan umat.
Harta bagi mereka adalah “bensin” untuk menggerakkan roda dakwah, membangun fasilitas pendidikan, dan memastikan bahwa syiar Islam tidak terhenti karena kendala biaya.
Jika kita bayangkan kesuksesan bisnis hanya identik dengan gaya hidup mewah, maka persepsi itu akan patah saat melihat para pengusaha alumni Gontor ini.
Dengan latar belakang santri, harta yang mereka kumpulkan justru didekasikan untuk dakwah, pesantren, dan kepentingan umat.
Ada sebuah fakta luar biasa yang menjadi ruh bagi organisasi FORBIS saat ini.
Mayoritas pengurus FORBIS diisi oleh para pengusaha yang sekaligus merupakan pimpinan pesantren.
Mereka adalah sosok-sosok yang setelah disibukkan dengan urusan korporasi dan strategi pasar, kemudian kembali lembaga pesantren yang dipimpinnya untuk mendidik santri, dan menjaga moralitas umat.
Fenomena “Pengusaha-Kyai” ini adalah etalase personal-personal yang kini mayoritas mengisi kepengurusan FOBIS.
Ini menegaskan bahwa didikan Gontor tidak hanya melahirkan sosok yang pandai berorasi di atas mimbar, tetapi juga sosok yang tangguh di tengah pasar.
Mereka adalah bukti nyata bahwa profesionalisme bisnis dan ketulusan mengabdi di pesantren bisa berjalan beriringan dalam satu detak jantung.
Inilah yang akan menjadi wajah utama dalam ajang FORBIS National Economic Summit & Expo 2026 mendatang.
Acara ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan kekuatan ekonomi alumni dengan kebutuhan strategis pesantren.
Kami ingin menegaskan kembali kepada khalayak luas, pengusaha seperti apa yang sebenarnya lahir dari rahim Pondok Modern Gontor.
Memasuki abad kedua Gontor, tantangan kita bukan lagi sekadar membangun sistem pendidikan yang mapan, karena fondasi itu sudah sangat kuat.
Tugas kita sekarang adalah menata bagaimana pesantren-pesantren alumni bisa mandiri secara ekonomi melalui kekuatan jaringan alumni yang saling bersinergi.
Kemandirian ekonomi adalah kunci agar institusi pendidikan Islam tidak lagi dipandang sebelah mata.
Pada agenda besar yang akan berlangsung di Kampus Pondok Modern Gontor, 19-21 Juni 2026 nanti, suasana akan terasa sangat berbeda.
Kami akan menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Chairul Tanjung untuk berbagi visi ekonomi, bersanding dengan para pimpinan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) serta jaringan strategis seperti Formaqin (Forum Maahid wa Madaris Tahfidz Quran Indonesia).
Kehadiran para tokoh nasional dan praktisi bisnis ini bukan sekadar untuk formalitas, melainkan untuk menciptakan sinergi nyata.
Kami ingin mengajak seluruh elemen, baik alumni maupun masyarakat umum, untuk hadir dan menyaksikan sendiri bagaimana energi ekonomi umat sedang dibangun dari dalam pesantren.
Ini adalah panggilan bagi siapa pun yang mendambakan kebangkitan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam.
Acara ini diharapkan menjadi titik tolak sinergitas yang inklusif bagi semua orang.
Harapannya Expo ini menjadi saksi bahwa kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar wacana di meja diskusi, melainkan gerakan nyata yang sudah dijalankan oleh para pengusaha santri.
Di sana, kita akan melihat bagaimana bisnis bisa tumbuh tanpa kehilangan akar spiritualitasnya.
Mari bersiap menyambut abad kedua Gontor dengan semangat baru.
Bersama-sama, kita akan melihat masa depan di mana pesantren tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga menjadi pilar kekuatan ekonomi bangsa yang mandiri, berwibawa, dan penuh keberkahan.









