CIREBON, FORBIS.ID — Forum Bisnis (FORBIS) IKPM Gontor kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung lahirnya ekosistem Inkubator Kewirausahaan Qur’ani. Pada Jumat (17/7/2026), jajaran Pengurus Pusat FORBIS hadir langsung di Cirebon untuk memenuhi undangan peresmian Gedung Rufiah di Ma’had Khadijah Li Tahfidzil Qur’an.
Pesantren yang berlokasi di Perumahan Harjamulya, Jalan Brigjen Darsono Bypass, Kabupaten Cirebon ini merupakan wujud dedikasi dari Ustadz H. Sefi Khirijil Yaman, yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua 1 (Wakil Ketua Umum) FORBIS IKPM Gontor Pusat.
Peresmian ini menjadi tonggak sejarah yang istimewa karena disaksikan langsung oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag., serta para kiai pimpinan pesantren dari wilayah Cirebon, Kuningan, dan sekitarnya.
Dari barisan FORBIS IKPM Gontor, delegasi dipimpin langsung oleh Ketua Umum H. Agus Maulana, didampingi Wasekjen Ustadz Fauzy Iriyanto, serta sejumlah tokoh pengurus pusat, seperti Ustadz Fajar Shodiq, Ustadz Abdul Gofar, Ustadz Masrul Syamhari (Pimpinan Pesantren Bina Madani), dan Ustadz Aruman.

Mencetak Santriwati Sociopreneur Berwawasan Global
Dalam momen penuh ukhuwah tersebut, Ketua Umum FORBIS H. Agus Maulana memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas visi progresif Ustadz Sefi Khirijil Yaman.
“Kami dari jajaran pengurus FORBIS mengucapkan selamat atas diresmikannya Gedung Rufiah ini. Ma’had Khadijah adalah bukti nyata bahwa alumni Gontor selalu selangkah lebih maju dalam membaca tantangan zaman, yakni dengan merintis pusat kaderisasi bagi para sociopreneur muslimah,” ujar H. Agus Maulana dalam sambutannya.
Ma’had Khadijah Li Tahfidzil Qur’an memang hadir dengan gebrakan kurikulum yang sangat relevan. Menggunakan sistem Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) dengan masa tempuh enam tahun, pesantren khusus putri ini mengambil keteladanan dari sosok Sayyidah Khadijah—seorang muslimah mandiri, pengusaha tangguh, sekaligus pendamping setia Rasulullah SAW.
“Porsi pendidikan di Ma’had Khadijah didominasi oleh program tahfidz Al-Qur’an sebesar 70 persen, sementara 30 persen sisanya kami arahkan murni pada praktik kewirausahaan dan pembentukan karakter sociopreneur,” jelas Ustadz Sefi.

Praktik Bisnis Riil Terintegrasi Teknologi
Konsep pembentukan karakter Srikandi Bisnis ini tidak sebatas teori di ruang kelas. Ma’had Khadijah dilengkapi dengan ruang kelas berbasis multimedia, smartboard, hingga fasilitas podcast untuk melatih kemampuan komunikasi, public speaking, dan negosiasi santriwati.
Secara berkala, para santriwati juga diterjunkan langsung ke pusat perbelanjaan dan pasar tradisional untuk mempraktikkan kepekaan bisnis (capture opportunity). Mereka dituntut melakukan observasi pasar, mengkaji potensi produk, hingga menyimulasikan perhitungan modal dan laba.
“Al-Qur’an banyak mengajarkan filosofi dan etika perdagangan yang luar biasa. Kami ingin santriwati memahami bahwa menjadi penjaga ayat suci sangat bisa berjalan beriringan dengan menjadi pengusaha yang profesional. Mereka harus siap menjadi pilar kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” tegas Ustadz Sefi.
Melalui peresmian Gedung Rufiah ini, kolaborasi antara nilai spiritualitas dan kecakapan bisnis yang diusung oleh para pengurus FORBIS diharapkan mampu melahirkan generasi Srikandi Ekonomi Umat yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing global.









