Bangkit Bisnis Pempek Setelah Temukan Jati Diri Santri, Kini Beromzet 120 Jt Masih Aja Diomeli Ketum FORBIS

  • 14 Desember 2020
  • 309 views
Bangkit Bisnis Pempek Setelah Temukan Jati Diri Santri, Kini Beromzet 120 Jt Masih Aja Diomeli Ketum FORBIS Bangkit Bisnis Pempek Setelah Temukan Jati Diri Santri, Kini Beromzet 120 Jt Masih Aja Diomeli Ketum FORBIS!

FORBIS.ID– Forbis Enterpreuner Rising Star, Wahyuddin. Alumni Gontor 2002 asal Sulawesi lahir di Palembang. Sejak kelas 4 KMI sudah menjadi bagian keamanan.

Lanjut Bagian Keamanan Santri saat kelas 5 dan 6. Bahkan saat pengabdian di Gontor Cabang Banyuwangi menjadi bagian pengasuhan santri.

Perawakannya kecil tapi tatapan matanya tajam dan sangar. Khas bagian penegakan disiplin pondok.

Ternyata semua pengalaman semasa di pondok itu tidak mengantarkan Wahyuddin menjadi seorang tentara atau profesi lainnya yang sejenis. Justru saat ini Wahyuddin menjadi seorang pengusaha kuliner di Ponorogo, khususnya produk olahan makanan berbahan dasar ikan.

Pempek Wahyu Sari dipilih menjadi Merk dagangnya. Diambil dari Namanya sendiri : Wahyu dan nama sang istri Sari. Wahyu Sari. Pempek Wahyu Sari. Sang Istri memang kelahiran Bangka.

Wahyuddin juga kelahiran Palembang. Tapi mereka semua tidak bisa memasak Pempek.

Wahyuddin dan istrinya hanya mencoba peruntungan setelah menikah. Wisuda ISID nya tertunda 4 tahun karena keburu menikah.

2 hari setelah menikah, mereka memutuskan untuk ngontrak rumah di ponorogo dan mencari peluang usaha. Peluang itu mengerucut pada 2 jenis kuliner yakni Bubur Ayam dan Pempek. Jualan Bubur ayam hanya bertahan 11 hari.

Setelah itu gulung tikar. “resiko jualan bubur ayam lebih rentan, karena sering tidak habis dan rugi” kenang wahyudin. Lalu Fokus ke Pempek. Mencoba trial error resep pempek dengan konsultasi ke kerabat di Palembang dan bangka. Gagal lagi coba lagi, dan seterusnya. “Semakin banyak kegagalan, semakin dekat arah kesuksesan” demikian prinsip Wahyuddin meyakinkan diri.

Oulet pertamanya di pinggir jalan Juanda Ponorogo. Pake Gerobak kayu buatan sendiri. Buka lagi di daerah siman, alun-alun ponorogo dan beberapa titik lainnya. Semua pake gerobak.

Aktivitasnya dalam keorganisasian mahasiswa, menjadi modal untuk menarik pelanggan dari kalangan rekan-rekan mahasiswa. Penjualan saat ini mencapai omset 400 ribu per hari atau 12 juta per bulan.

Sangat bagus untuk ukuran gerobak pada masa tersebut. Hingga memberanikan diri untuk ngontrak tempat yang lebih layak di jalan jaksa agung ponorogo. Wahyuddin semakin sibuk mengurus outlet gerobak dan cabang-cabangnya.

Semua terlihat baik-baik saja sampai pada suatu saat kamis malam jumat, Wahyuddin mengalami kecelakaan motor. Sejak itu, satu per satu cabangnya mulai tutup. Sampai akhirnya tahun 2006 semua outlet yang dibangun rontok, tidak tersisa satu pun. Wahyuddin dan Istri tidak memiliki apa-apa lagi.

Tapi musibah tersebut membuat Wahyudin mendapatkan pelajaran penting. Setelah muhasabah, Wahyuddin merasa bahwa selama ini dia banyak melalaikan kewajiban kepada Sang Pemberi Rizqi.

“saya terlena dalam kesibukan mengurus usaha yang terus menanjak naik, banyak mengakhirkan sholat, lupa kepada Allah Swt yang sejatinya Maha Pemberi Rizqi” tutur wahyuddin. Saya merasa bahwa apa yang saya dapatkan karena kerja keras dan keringat saya. Padahal itu keliru.

Saya melupakan pelajaran dan didikan selama di pondok. Jatidiri santri saya luntur, karena terlena dan asyik dengan usaha dan bisnis yang digeluti.

Sejak saat itu Wahyuddin mulai memperbaiki diri. Jatidiri Santri nya mulai ditumbuhkan Kembali. Apapun pekerjaan dilakukan asal halal. Termasuk melamar menjadi tenaga honorer di bagian perekonomian pemda ponorogo. Mulai mengumpulkan modal usaha lagi.

Bangkit lagi di tahun 2007. Tapi ternyata tidak mudah. Hasil penjualan hanya 20-50 ribu per hari. Jauh dibandingkan pengalaman manis sebelumnya.

Perlu waktu 3 tahun untuk mencapai satu titik dimana Allah Swt memberikan kesuksesan berikutnya. “saya tempuh apapun untuk bertahan, termasuk sampai menggadaikan cincin perkawinan istri saya” kenangnya.

Kegigihan Wahyuddin dan istri mulai membuahkan hasil. 2010 Omset penjualan terus naik.

Hal ini dicapai karena Wahyuddin membuka cabang dan kemitraan di berbagai kota seperti Surabaya, Madiun, Jogja, bandung, Bekasi dan kota lainnya. Kebutuhan ikan bisa mencapai 60-70 Kg sehari.

Cabang dan kemitraan tersebut berawal dari para pelanggan dari luar kota ponorogo yang merasa puas saat mencicipi Pempek Wahyu Sari dan harga yang terjangkau.

Berlanjut dengan menjalin Kerjasama kemitraan di berbagai kota. “Alhamdulillah, saat itu saya sampai bisa membeli rumah dari hasil usaha ini” kenangnya.

Performa usaha sempat turun lagi karena beberapa cabang lepas. Supply bahan baku (ikan) tidak konsisten sehingga pengiriman terhambat.

Baru kemudian di 2018 memulai produk pempek dan olahan lainnya secara frozen. Bisa tahan lebih dari 6 bulan tanpa pengawet sehingga memudahkan distribusi dan stok barangnya. Supply bahan baku juga dibenahi.

Saat ini supply ikan barakuda dan ikan tenggiri sebagai bahan baku utama pengolahan produk ini, sudah bisa didatangkan dari pihak pertama. Pada tahun 2020 ini ada 3 cabang dan 13 Mitra yang tersebar dari Madiun sampai Bekasi.

Pernah mendapatkan penghargaan sebagai Innovator terbaik UMKM Ponorogo 2019. Aktif menjadi pembina kelompok usaha pengolahan makanan dari dinas perikanan, membina UMKM desa binaan gontor Bersama dengan Pondok Modern Gontor.

Dalam sebuah kesempatan, setelah acara Takziah alm Gus Ancah putra Kyai Hasan, saya sempat mengikuti acara yang diadakan KOMAS (Komunitas Masyarakat Santri) dalam rangka Ikrar dan Janji Calon Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo, saya sempat ngobrol dengan Wahyuddin, Owner Pempek Wahyu Sari ini.

Pertanyaan saya sederhana. Berapa Omset Wahyu Sari Saat ini ? beliau menyebut angka di kisaran 120 juta per bulan. Dengan 5 orang Karyawan, bagian produksi 2 dan penanggungjawab outlet 3 orang. Wayuddin focus di marketing, pengelolaan SDM dan pembukuan. Sementara Istrinya focus mengurusi produksi.

Pertanyaan saya berikutnya. Apakah anda sudah merasa puas dengan pencapaian saat ini ? Jawaban beliau, saya tidak ngoyo. Saya mencoba qonaah dan menjalani apa adanya, sesuai dengan kapasitas kemampuan saya, segini.

Jawaban inilah yang mengusik saya untuk “memarahi” Wahyuddin. Saya sampaikan, dari mana antum punya keyakinan bahwa kapasitas kemampuan antum segini? Jangan sekali kali meremehkan potensi dan kapasitas kemampuan yang ada pada diri kita.

Omset 120 juta itu belum ada apa-apanya. Bisa nggak kira-kira kalo Wahyu Sari ini punya omset 400 juta perbulan atau 4,8 Milyar per tahun? Bisa nggak kira-kira Wahyu Sari ini menguasai Frozen Food, makanan olahan beku dari mulai pempek, siomay, sempol, nugget dll dan punya jaringan distribusi ke seluruh penjuru nusantara ?

Bisa nggak kira-kira Wahyu Sari ini punya pabrik pengolahan yang representative dan berstandar nasional?

Wahyuddin manggut-manggut sambal meringis. Tidak menyangka akan mendapatkan omelan bisnis yang menyentak kesadaran / mindset dia selama ini.

Saya melanjutkan pertanyaan saya. Apakah Wahyu Sari sudah memiliki legalitas usaha untuk sebuah produk frozen yang selama ini dijual? PIRT, BPOM, Halal dll ? Ternyata belum.

Baru memiliki SIUP, Hasil Uji Lab, dan rekomendasi dinas. Perjalanan Wahyu Sari itu masih Panjang. Potensinya masih terbuka lebar. Masih banyak hal-hal yang perlu disempurnakan, dilengkapi, ditingkatkan.

Ini bukan soal ngoyo atau tidak ngoyo. Ini soal roadmap bisnis yang harus tergambar jelas kedepan agar kita bisa meraih kesuksesan yang lebih besar. Kapasitas kita masih bisa dipacu, di upgrade, ditingkatkan. Jangan salah dalam menafsirkan dan menempatkan konsep qonaah. Konsep qonaah bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak terus melakukan scale up bisnis dalam berbagai aspeknya.

Wahyuddin semakin menunduk. Merasa kerdil. Seperti seorang santri yang sedang diinterogasi dan diomelin oleh bagian keamanan atau pengasuhan di pondok.

Pertanyaan saya berikutnya. Apakah Wahyu Sari sudah punya konsep atau semacam bisnis plan bagi para mitra yang ingin menjadi Kerjasama kemitraan ? Wahyuddin menjawab sudah ada.

Bahkan saat ini ada 9 calon mitra yang listing, belum di follow up untuk eksekusi kemitraannya. Karena berbagai kendala dan kesiapan.

Lalu saya mulai memberikan beberapa masukan kepada Wahyuddin agar usaha Pempek Wahyu Sari ini bisa naik kelas dan berkembang pesat kedepan.

Pertama, yang harus dirubah adalah mindset kita. Karena mindset inilah yang akan menuntun arah dari bisnis kita. Membangun bisnis dengan mindset yang tepat dan benar, akan berbeda hasilnya dengan bisnis yang dibangun tanpa arah yang jelas.

Diantara Mindset yang harus dibangun antara lain bahwa Wahyu Sari bukan penjual atau pedagang Pempek.

Bukan sekedar outlet Pempek. Wahyu Sari adalah bisnis olahan makanan berbasis ikan, meliputi penjualan langsung produk seperti Pempek, maupun distribusi Frozen Food berkualitas dengan harga terjangkau ke seluruh penjuru nusantara. Sehingga tahapan menuju ke sana masih terus harus dilakukan.

Kedua, kita harus open mind, terbuka terhadap berbagai masukan, situasi dan perkembangan lingkungan dan pasar.

Sebagai pebisnis, kita harus terus aktif mencari terobosan-terobosan baru, belajar dari siapapun termasuk competitor kita. Jiwa pebisnis berbeda dengan jiwa seorang bagian keamanan atau pengasuhan.

Ketiga, segera lengkapi aspek legalitas usaha kita. Baik yang menyangkut perizinan umum seperti badan usaha maupun legalitas yang spesifik terkait produk seperti PIRT, BPOM, Halal dll.

Hal ini penting karena menjadi syarat mutlak ketika masuk ke pasar dan jangkauan yang lebih luas. Hal ini juga menyangkut trust konsumen terhadap kualitas produk kita.

Keempat, lakukan pembenahan dalam administrasi pembukuan usaha. Performa bisnis harus dapat dilihat dan dianalisa dari data-data usaha yang tercatat secara rapi dan akurat.

Untuk memudahkan monitoring, semua pencatatan keuangan bisnis dilakukan secara realtime dan online. Laporan usaha dan keuangan, baik Laba Rugi, Cash Flow, Neraca dan lain lain dapat diakses secara harian, bulanan maupun tahunan.

Bangkit Bisnis Pempek Setelah Temukan Jati Diri Santri, Kini Beromzet 120 Jt Masih Aja Diomeli Ketum FORBIS!
Bangkit Bisnis Pempek Setelah Temukan Jati Diri Santri, Kini Beromzet 120 Jt Masih Aja Diomeli Ketum FORBIS!

Kelima, Pengembangan usaha sebaiknya dilakukan sejalan dengan prinsip-prinsip Syariah. Hindari peminjaman modal ke perbankan.

Hindari unsur riba dalam bisnis kita. Sebaliknya, kita harus buka akses yang lebar terhadap adanya konsep mudhorobah, musyarokah, murobahah dll dalam pengembangan bisnis kita.

Sesuaikan konsep yang yang paling tepat. Lakukan sinergi dengan berbagai pihak, dengan didasari oleh prinsip bisnis professional, pertimbangan-pertimbangan bisnis yang rasional.

Bukan sekedar karena pertemanan atau satu almamater. Semua bentuk Kerjasama harus dituangkan dalam MoU yang dilengkapi dokumen legal formal, dengan segala klausul nya.

Keenam, sejak awal, bisnis kita harus diarahkan sebagai sarana untuk menebar manfaat yang luas, baik dalam bidang dakwah, Pendidikan, pengembangan masyarakat dll. Bisnis bukan tujuan. Sehingga semakin berkembang bisnis kita, semakin besar dan luas manfaat yang bisa kita tebar.

Semoga Wahyu Sari Pempek, kelak akan menjadi PT Wahyu Sari Food yang menguasai bisnis pengolahan makanan Indonesia. (HAM)

Ditulis oleh: Agus Maulana
Ketua Umum FORBIS PP IKPM Gontor, alumni Gontor tahun 1992 dan sebagai pemilik bisnis bengkel Agus Lio Ban di Subang

Konten Terkait