Menyongsong Abad kedua Gontor: Menimbang Pendirian Holding Company Gontor

Menyongsong Abad kedua Gontor: Menimbang Pendirian Holding Company Gontor Menyongsong Abad kedua Gontor: Menimbang Pendirian Holding Company Gontor

Sebuah pesan singkat di WA saya tiba tiba masuk. Pengirimnya Ustadz Akrimul Hakim, Staff Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang ditugaskan di Jakarta. Isinya undangan untuk menghadiri pertemuan dengar pendapat Pembentukan Holding Company Gontor. Pengundangnya Badan Wakaf PMDG, sebagai institusi tertinggi di PMDG, yang merancang blueprint arah kebijakan strategis pondok ke depan.

Bagi saya, undangan ini lebih sebagai sebuah panggilan. Sami’na wa Ato’na. Jika Gontor memanggil, semua kesibukan lain harus diparkir. Begitu prinsip dan takzim santri kepada Kyai dan pondoknya.

Terus terang saya antusias menyambut undangan ini. Sudah lama saya membayangkan Gontor bisa menjadi lokomotif penggerak ekonomi santri, pesantren dan ummat. Terlebih setelah saya diamanati menjadi Ketua Umum Forum Bisnis (Forbis) IKPM Gontor sejak 2016 sampai sekarang.

Naluri dan feeling bisnis saya langsung membaca betapa besar potensi bisnis ekosistem Gontor. Ya, betapa tidak. Gontor memiliki ribuan santri, ribuan alumni, puluhan pondok cabang, ratusan Pondok Alumni, serta wali santri yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara bahkan dunia.

Saat ini Gontor sudah menjadi role model, rujukan bagi berbagai pesantren dan lembaga pendidikan dalam pengembangan ekonomi pondok. Dengan iuran santri yang sangat terjangkau alias murah mulai biaya makan, biaya sekolah dan berbagai keperluan santri, cuma 650 ribuan per bulan. Gontor sukses menyelenggarakan pendidikan berkualitas yang mumpuni, melengkapi fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang memadai. Semua bersumber dari unit-unit usaha pondok dan pengelolaan wakaf.

Kita harus mengakui prestasi ini. Bahkan Trimurti pendiri Gontor sudah memikirkan hal ini sejak lama. Melalui Panca Jangka Pondok yang diantaranya Pendidikan dan Pengajaran, Pergedungan, Kaderisasi, Khizanatullah (pendanaan) dan Kesejahteraan Keluarga. Panca Jangka inilah yang menjadi ruh yang menggerakkan aktivitas di Gontor dan sebagai barometer keberhasilan dan kemajuan pondok.

Gontor masih akan terus melangkah dan berlari, seperti perumpamaan KH. Hasan Abdullah Sahal “Ibarat Gontor ini memiliki tujuan akan pergi ke Makkah, kita sekarang ini baru berjalan sampai perempatan Jabung.”

Kontribusi Gontor terhadap negeri sudah terbukti. Sejak 1926, Gontor konsisten dengan konsep pendidikan pesantren modern ala KMI, sukses melahirkan banyak tokoh nasional dan internasional, melahirkan ribuan Kyai dan para pendidik yang tersebar seantero negeri bahkan dunia.

Kini, menyambut abad kedua Gontor, Badan Wakaf PMDG membuat sebuah rencana penting untuk membuat Holding Company Gontor yang akan menjadi induk bagi berbagai unit usaha kedepan.

Ini merupakan sebuah sinyal, bahwa Gontor siap menjadi lokomotif penggerak ekonomi ummat. Memanfaatkan jaringan alumni dan walisantri, bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai kekuatan ummat, untuk kemanfaatan dan kemaslahatan bersama.

Potensi para alumni dan wali santri yang tersebar hampir di setiap kabupaten, kecamatan bahkan pelosok desa di Indonesia, ibarat obor yang menyala di setiap titik. Tapi obor tersebut nyala sendiri sendiri, tidak terkoneksi secara menyeluruh. Bayangkan jika rangkaian obor tadi bisa dikoneksikan, akan menjadi sebuah big generator yang sekali pencet akan otomatis menyala bersamaan dan terkoneksikan dalam jaringan bisnis.

Maka, pendirian Holding Company harus didudukan pada pijakan yang tepat. Yakni dalam rangka pengembangan wakaf yang dikelola dalam sistem bisnis profesional. Prinsip dasar bisnis seperti akuntabilitas, feasibilitas, prifitabilitas, kompetensi SDM, open minded, sinergi dan kolaborasi, equity sharing, model model pengembangan bisnis, orientasi target/goal, aspek teknologi IT, dan hal penting lainnya harus menjadi concern bagi siapapun yang terlibat dalam holding company.

Harapannya, Holding Company Gontor ini akan menjadi World Class Company yang berbasis wakaf dalam rangka penguatan ekonomi pesantren dan ummat.

Ditulis oleh: Agus Maulana
Ketua Umum FORBIS PP IKPM Gontor, alumni Gontor tahun 1992 dan sebagai pemilik bisnis bengkel Agus Lio Ban di Subang