Catatan ~Agus Maulana

Etika Bisnis Anggota FORBIS

Etika Bisnis Anggota FORBIS Etika Usaha Anggota FORBIS

FORBIS.ID– Kehadiran Forum Bisnis (Forbis) IKPM Gontor sebagai rumah besar bagi para pengusaha alumni gontor dan kalangan profesional bisnis, tentunya akan menjadikan intensitas silaturahim dan interaksi antar pebisnis dari kalangan alumni akan meningkat. Demikian juga silaturahim dan interaksi dengan alumni non pebisnis, wali santri dan keluarga besar PMDG.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan, maka perlu diingatkan kembali terkait etika bisnis antar anggota FORBIS khususnya, maupun alumni pada umumnya.

Hubungan pertemanan, baik marhalah, konsul, firqoh maupun lainnya, akan sangat berbeda dengan hubungan bisnis. Masing-masing ada “bahasa”nya, ada aturan mainnya.

Catatan lain: Explore Bandung: Menelusuri Paris Van Java Sambil Silaturahim ke Usaha Alumni Gontor Part 1

Hubungan pertemanan tidak bisa diterapkan dalam bisnis. Demikian juga kaidah bisnis akan terasa tidak enak ketika diterapkan dalam konteks pertemanan. Likulli Maqam Maqal.

Beberapa contoh sederhana ini akan memudahkan kita memahami bagaimana etika bisnis dan etika pertemanan harus ditempatkan dengan tepat.

Dengan adanya informasi terkait unit-unit usaha anggota forbis atau alumni, baik di website forbis.id maupun media sosial lainnya, tentu menjadi sesuatu yang positif.

Bisa saling berkunjung dan silaturahim. Sharing informasi dan pengalaman. Saling support dan menguatkan. Bahkan bersinergi serta berkolaborasi.

Catatan Lain: Explore Jogjakarta: Mengunjungi Unit-unit usaha Alumni Gontor di Jogjakarta

Jika kita berkunjung ke unit usaha seseorang, katakanlah bidang kuliner, tentunya kita akan mendapati barang jualan yang didagangkannya. Terlebih ketika kita datang tidak sendirian, tapi menyertakan beberapa orang. Jika hal ini tidak kita sikapi dengan bijak, maka akan terjadi ewuh pakewuh.

Jangan sampai sang tamu menerapkan prinsip “mangpang meungpeung”, pengen mencari gratisan. Sebaliknya Sang tuan rumah yang menjual merasa tidak enak ketika harus mengenakan charge/biaya atas apa yang dijualnya. Sementara kalau tidak dikenakan biaya, tentunya akan merugikan.

Jika ini terjadi berulang kali dan melibatkan banyak pihak, tentu tidak sehat. Maka, terapkan prinsip bisnis dan pertemanan secara bijak dan proporsional. Ketika kita berkunjung ke kedai kuliner rekan kita, tentu akan berbeda ketika kita berkunjung ke rumahnya. Walaupun disuguhi sesuatu yang sama.

Catatan Lain: Begini Rasanya Berpuasa di Kota Persahabatan Brasil

Jangan sampai kita punya prinsip mencari gratisan di tempat usaha rekan kita. Justru kita datang sebagai customer yang membantu usaha rekan kita, daripada kita belanja ke orang lain.

Sebagai pebisnis, kita juga tidak boleh merasa tidak enak ketika harus menerapkan charge atas pesanan rekan kita. Kecuali kita punya niat untuk menjamu tamu sesuai dengan kadar kemampuan dan kesediaan kita. Disinilah pentingnya dhomir, nurani sebagai dasar etika kita.

Demikian juga ketika melakukan hubungan bisnis seperti transaksi jual beli. Maka seharusnya kita menerapkan prinsip-prinsip bisnis yang selama ini kita terapkan kepada customer kita.

Misalkan untuk pesanan barang kita terapkan DP sekian persen, penjualan tunai atau tempo sekian waktu, ada kuitansi atau perjanjian yang jelas dll. Jangan sampai lantaran pertemanan atau karena sesama anggota forbis atau alumni, lantas prinsip-prinsip bisnis diatas kita abaikan.

Justru disinilah rawan munculnya persoalan di kemudian hari. Banyak diantara kita yang baru kenal sebentar, karena merasa sama-sama satu almamater, kemudian begitu mudahkan memberikan keringanan-keringanan, tanpa melakukan cross check terlebih dahulu, sehingga muncul persoalan yang justru merusak pertemanan dan persaudaraan.

Pesanan barang tanpa DP, barang sudah dikirim tapi pembayaran tak kunjung tiba. Tiba-tiba sulit dihubungi dan seterusnya. Jika rekan kita pebisnis sejati, maka penerapan prinsip bisnis adalah sesuatu yang seharusnya. Tidak akan protes atau keberatan.

Jangan sampai kita menganggap mudah sesuatu yang justru mempersulit di kemudian hari. Terapkan prinsip dan kaidah bisnis sebagaimana mestinya. Jika pun ada kebijakan tertentu, itu sifatnya hanyalah sesuatu yang menyempurnakan prinsip dasarnya.

Terlebih lagi ketika kita hendak menjalankan sebuah sinergi bisnis atau kolaborasi. Ini memerlukan pertimbangan yang matang.

Pertama, pastikan bahwa dasar kita bersinergi adalah karena ada kesamaan visi dan misi, memahami dengan baik apa yang akan dijalankan, kalkulasi bisnisnya baik keuntungan maupun resikonya.

Bukan sekedar karena kesamaan marhalah atau konsul, atau lantaran sama-sama dari almamater yang sama.

Kedua, lakukan cross check terkait personality dari calon bisnis kita, track record nya dari berbagai sumber. Seperti halnya seseorang yang hendak melakukan pinjaman bank, maka pihak bank akan melakukan BI Checking, meneliti apakah orang tersebut punya persoalan keuangan dengan pihak lain maupun pihak perbankan.

Yang banyak terjadi adalah ketika melakukan perjanjian bisnis, langsung action tanpa cross check, baru setelah ada masalah kemudian mencari informasi dan verifikasi sambil menyalahkan berbagai pihak dll,

Ketiga, perjanjian bisnis yang menyangkut sinergi dan kolaborasi harus dituangkan dalam legal formal yang jelas. Bukan sekedar perjanjian lisan. Demikian juga menyangkut hak dan kewajiban serta tanggungjawab, resiko, mekanisme penyelesaian jika terjadi persoalan serta persoalan-persoalan yang harus diatur secara detail. Kebanyakan dari kita mengabaikan hal ini karena rasa saling percaya atau supaya simpel.

Keempat, pengelolaan bisnis apalagi dilakukan secara bersama (sinergi dan kolaborasi) wajib menerapkan prinsip transparansi atau keterbukaan. Akses terhadap administrasi dan keuangan harus dibuka, dilakukan rapat rutin membahas evaluasi, penilaian seseorang berdasarkan kinerjanya, menghilangkan ewuh pakewuh ketika harus berbeda pandangan dll.

Pertimbangan dan tahapan-tahapan diatas harus dilakukan agar pondasi bisnis yang dibangun berdasarkan sinergi dan kolaborasi akan kuat dan sustain dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Paling tidak, kita sudah mengupayakan semaksimal mungkin untuk meminimalisir resiko-resiko yang akan terjadi. Selebihnya tergantung pada nasib dan ketentuanNya.